Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) meninjau pelaksanaan kegiatan belajar mengajar tahun ajaran baru di SLB Negeri Pembina Tingkat Provinsi Sumatra Utara usai mengalami bencana banjir pada beberapa waktu lalu.
Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (Dirjen Diksi PKPLK) Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin dalam amanatnya menegaskan kembali ke sekolah setelah terjadinya bencana bukanlah hal mudah bagi murid maupun guru.
Baca juga: Kodam I/BB salurkan paket perlengkapan sekolah untuk siswa di Tapteng
“Anak-anakku, kita harus tetap gemar belajar kapan pun, di mana pun, dan dalam kondisi apapun. Bapak dan ibu guru akan terus berupaya menjadi teman belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi kalian semua,” ujar Dirjen Tatang dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Rabu.
Menurutnya, rasa cemas, kelelahan, hingga duka akibat kehilangan harta benda, bahkan anggota keluarga masih mungkin dirasakan. Namun demikian, semangat untuk belajar harus terus dijaga.
Sejak bencana banjir melanda wilayah Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat, lanjutnya, Ditjen Diksi PKPLK Kemendikdasmen terus melakukan penanganan dampak bencana terhadap keberlanjutan pendidikan, dengan total bantuan yang disalurkan di ketiga wilayah tersebut mencapai lebih dari Rp13 miliar.
Bantuan itu, kata dia, mencakup 109 unit tenda darurat, 7.600 paket schoolkit, 2.000 pasang sepatu, serta 80 paket sekolah darurat.
Selain itu, dukungan psikososial berupa layanan trauma healing juga diberikan kepada murid serta orang tua atau keluarga terdampak.
Sementara itu, Kepala SLB Negeri Pembina Tingkat Provinsi Sumatra Utara Mardi Panjaitan menjelaskan banjir sempat merendam hampir seluruh ruang kelas dengan ketinggian air lebih dari satu meter.
Baca juga: Polda Sumut salurkan seragam sekolah untuk siswa di Tapanuli Tengah
Baca juga: Komdigi salurkan internet gratis ke sekolah terdampak bencana di Sumut
Ia menyebutkan sekitar 400 murid terpaksa diliburkan dan mengikuti pembelajaran secara daring dari rumah masing-masing.
Selain ruang kelas, banjir juga merusak sejumlah fasilitas sekolah, termasuk ruang administrasi dan kantin hasil program revitalisasi satuan pendidikan tahun 2025.
Akibatnya, perabot sekolah yang baru digunakan turut terdampak dan memerlukan perbaikan ulang. “Mebel yang baru akhirnya kondisinya seperti mebel lama, karena terendam banjir. Untungnya papan interaktif digital datang setelah banjir, sehingga bisa kami selamatkan,” ujar Mardi.
Pewarta: Hana Dewi Kinarina Kaban
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































