Jakarta (ANTARA) - Perusahaan teknologi pengelolaan manajemen konsumen, Getfly Technology JSC, menekankan bahwa kedaulatan data menjadi kunci ketahanan usaha kecil, dan menengah (UKM) untuk bisa menghadapi era kecerdasan artifisial (AI) yang serba membutuhkan dan melatih data.
CEO Getfly Technology JSC Nguyen Huy Hoang mengatakan kedaulatan data kerap terlupakan oleh pelaku UMKM padahal bisnis mereka yang menjalankan digitalisasi penuh dengan banyak data penting seperti data pelanggan, operasional, dan pengetahuan perusahaan.
“Bisnis jarang menggambarkan masalah ini sebagai ‘kehilangan kedaulatan data,’” kata Hoang dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Kamis.
Lebih lanjut ia mengatakan, jika hal ini terus berlanjut maka “Mereka (UMKM) biasanya mengalaminya secara tidak langsung melalui ketidakstabilan operasional.”
Hoang menilai kedaulatan data bahkan pada bisnis skala mikro sekalipun perlu dipandang sebagai persoalan manajemen bisnis, bukan hanya persoalan teknologi informasi.
Baca juga: Wamen UMKM: Digitalisasi harus tingkatkan produktivitas usaha
Ia menjelaskan beberapa kemungkinan tantangan yang dihadapi oleh pelaku UMKM dalam mencapai kedaulatan data tersebut, dari sisi teknologi ada kemungkinan bisnis mengalami ketergantungan terhadap platform pihak ketiga.
Ketergantungan terhadap pihak ketiga itu dapat menjadi risiko ketika terjadi perubahan algoritma, kebijakan, biaya, maupun akses terhadap data.
Di sisi lain, ketergantungan pada karyawan tertentu juga dapat membuat informasi pelanggan dan proses bisnis ikut hilang ketika individu tersebut meninggalkan perusahaan.
Data yang tersimpan di spreadsheet pribadi, riwayat pesan, atau ingatan karyawan membuat perusahaan sulit membangun aset pengetahuan yang dapat digunakan secara berkelanjutan.
Baca juga: Kamar dagang Indonesia-Singapura perkuat kerja sama digitalisasi UMKM
Menjawab beberapa tantangan tersebut, sebagai penyedia layanan manajemen konsumen maka Hoang menyarankan agar pelaku usaha dapat membangun sistem terpusat yang mengintegrasikan data pelanggan dan proses operasional.
Membantu para pelaku UMKM itu, Getfly CRM hadir sebagai solusi memberikan dukungan untuk menyimpan profil pelanggan, riwayat interaksi, aktivitas penjualan, hingga proses tindak lanjut dalam sistem yang menjadi bagian dari operasional perusahaan.
“Bisnis seharusnya tidak memulai transformasi digital dengan bertanya software apa yang harus mereka beli. Mereka harus terlebih dahulu mengidentifikasi di mana operasional mereka terfragmentasi, kemudian membangun kembali fondasinya berdasarkan data dan proses yang terstandarisasi," kata Hoang.
Baca juga: Nezar: Digitalisasi UMKM harus dorong produktivitas dan daya saing
Kontrol terhadap data juga menjadi fondasi dalam pengembangan Agentic Business OS Getfly, sistem tersebut menggabungkan Getfly CRM dan AutoFly AI Agent melalui pendekatan "People+Data+AI".
CRM berfungsi sebagai fondasi data, sementara AutoFly AI Agent dapat menggunakan konteks bisnis tersebut untuk menganalisis informasi, mengidentifikasi risiko, dan memberikan rekomendasi tindakan dengan tetap melibatkan pengawasan manusia.
Dalam penerapannya, pelaku UKM dapat menentukan akses AutoFly terhadap data yang relevan serta menambahkan tahapan persetujuan manajemen sebelum rekomendasi AI dijalankan.
Pendekatan ini memungkinkan AI membantu proses pengambilan keputusan tanpa menghilangkan kontrol manusia atas operasional bisnis.
Baca juga: BI dorong digitalisasi pembayaran UMKM untuk perluas pembiayaan
Bagi UKM di Indonesia, kebutuhan tersebut semakin relevan karena bisnis kini menggunakan semakin banyak kanal, mulai dari lokapasar, aplikasi pesan instan, cloud, CRM, hingga berbagai teknologi AI.
Keamanan juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan data bisnis, maka dari itu mencari mitra yang tepat dengan standar yang jelas menjadi salah satu parameter yang tidak boleh dilupakan dalam digitalisasi layanan.
Getfly telah memperoleh sertifikasi ISO/IEC 27001:2022 untuk Sistem Manajemen Keamanan Informasi, yang mencakup pengelolaan risiko, kontrol akses, tata kelola, prosedur operasional, serta peningkatan praktik keamanan secara berkelanjutan.
Dengan demikian keamanan data yang dimiliki pelaku usaha terjamin mengingat adanya standar layanan tinggi dalam hal sistem manajemen keamanan informasi.
Baca juga: BI: QRIS dipakai 65,77 juta pengguna dan diterima 44,86 juta merchant
Pewarta: Livia Kristianti
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































