Jakarta (ANTARA) - Kader Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kota Jakarta Timur menjadi penggerak dalam upaya pencegahan kasus anak stunting melalui edukasi dan pendampingan keluarga di wilayah masing-masing.
"Peran aktif kader PKK dalam mendukung upaya percepatan penurunan stunting, karena kader PKK memiliki peran strategis, berasa dekat dengan keluarga dan masyarakat," kata Ketua Tim Penggerak PKK Kota Jakarta Timur Essie Feransie Munjirin di Jakarta, Jumat.
Menurut Essie, kedekatan tersebut perlu dimanfaatkan untuk memperkuat peran kader sebagai penggerak edukasi, pencegahan, dan pendampingan keluarga.
Dia menilai penguatan kapasitas kader penting dilakukan agar pengetahuan yang diperoleh dalam kegiatan dapat diterapkan di lingkungan masing-masing.
"Melalui kegiatan ini, kami berharap seluruh peserta dapat memperoleh pengetahuan dan wawasan yang dapat diterapkan di wilayah masing-masing," ujar Essie.
Menurut Essie, upaya pencegahan stunting membutuhkan keterlibatan berbagai unsur, termasuk kader yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, TP PKK Jakarta Timur mempertemukan kader dari berbagai tingkatan, mulai dari kota, kecamatan, kelurahan, RW hingga RT.
Selain itu, kegiatan juga melibatkan para kader Posyandu, pengelola Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) dan kader PIK Keluarga.
"Dengan memperkuat sinergi antara kader, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan, semua dapat mewujudkan generasi yang sehat, berkualitas, dan bebas stunting," kata Essie.
Adapun Pemerintah Kota Jakarta Timur melalui Suku Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) memperkuat kapasitas kader Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) untuk mempercepat penurunan kasus anak stunting.
"Kami sudah melakukan kegiatan penguatan Kader PKK dalam rangka percepatan penurunan stunting tingkat Kota Jakarta Timur Tahun 2026," kata Kepala Suku Dinas PPAPP Kota Jakarta Timur Ferlina Kirtiasih saat dikonfirmasi di Jakarta, Jumat.
Ferlina menyebut stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis yang perlu dicegah sejak masa kehamilan hingga periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Ferlina berharap semakin meningkatnya pemahaman masyarakat mengenai stunting dan upaya pencegahannya, penurunan prevalensi angka stunting dapat berjalan.
"Sehingga dapat tercapainya target pemerintah dalam penurunan prevelensi angka stunting di Tahun 2026 menjadi 18,8 persen. Dengan penurunan angka prevelensi stunting, diharapkan Indonesia dapat memiliki sumber daya manusia yang potensial," kata Ferlina.
Sebelumnya, Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) Jakarta Timur mencatat data stunting di Jakarta Timur pada awal 2025 sebanyak 812 kasus, dengan rincian kasus stunting sangat pendek sebanyak 268 anak dan status pendek 544 anak.
Kecamatan terbanyak di Cakung sebanyak 147 anak, Kramat Jati 102 anak, Matraman 100 anak, Cipayung 95 anak, Ciracas 82 anak, Duren Sawit dan Jatinegara masing-masing 69 anak, Pulogadung 57 anak, Pasar Rebo 53 anak, dan Makasar 38 anak.
Baca juga: Pemkot Jaktim perkuat kader PKK untuk percepat penurunan stunting
Baca juga: Stunting dapat diatasi bila ditemukan sedini mungkin
Baca juga: Cegah stunting, Pemkab Kepulauan Seribu edukasi calon pengantin
Pewarta: Siti Nurhaliza
Editor: Mentari Dwi Gayati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































