Jakarta (ANTARA) - Kebutuhan lahan untuk pembangunan pusat data (data center) di Indonesia terus meningkat seiring dengan pesatnya pertumbuhan penggunaan data dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Country Head and Head of Logistics & Industrial JLL Indonesia Farazia Basarah mengatakan sekitar 80 persen permintaan lahan industri yang masuk dalam cakupan riset JLL saat ini berasal dari sektor pusat data.
“Dua sampai tiga tahun lalu mungkin mereka minta sekitar 5 hektare tanah, tapi saat ini requirement yang kita terima mulai dari minimal 10 hektare sampai dengan 30 hektare untuk satu data center,” kata Farazia dalam taklimat media di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, peningkatan kebutuhan lahan tersebut perlu diimbangi dengan kesiapan infrastruktur, khususnya listrik dan air bersih, serta ketersediaan lahan.
Kebutuhan listrik untuk setiap proyek pusat data juga semakin besar. Saat ini, Farazia menyebut satu pusat data dapat membutuhkan pasokan listrik sekitar 100 megawatt (MW) hingga 200 MW.
Dia menilai kebutuhan tersebut semakin menantang karena permintaan pusat data, khususnya yang berkaitan dengan AI, tumbuh sangat cepat.
“Per kuartal itu sangat besar dilihat dari AI, pertumbuhan AI dan mungkin salah satu aplikasi AI juga sudah semakin canggih saat ini. Jadi itu juga berdampak terhadap pertumbuhan data center untuk AI,” kata Farazia.
Berdasarkan hasil riset JLL Indonesia, kapasitas data center yang telah beroperasi mencapai sekitar 450 MW. Tingkat okupansi mencapai sekitar 70 persen di daerah CBD Jakarta dan sekitarnya serta sekitar 80 persen di kawasan Cikarang, Karawang, dan bagian timur Jakarta.
Farazia mengatakan pertumbuhan permintaan pusat data membuat kesiapan infrastruktur menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan industri tersebut di Indonesia.
Selain listrik, ia menyebut pengembang juga perlu memastikan ketersediaan air bersih dan lahan yang memadai untuk mengakomodasi kebutuhan fasilitas data center yang semakin besar.
Pemerintah terus mendorong pengembangan pusat data untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai Indonesia memiliki sejumlah keunggulan untuk mengembangkan industri tersebut, antara lain ketersediaan lahan, harga energi yang kompetitif, serta sumber energi domestik yang beragam seperti panas bumi, tenaga surya, dan tenaga air.
Pemerintah juga menyiapkan infrastruktur pendukung guna memastikan ketersediaan energi yang andal bagi pengembangan pusat data di berbagai wilayah Indonesia.
Sejalan dengan itu, perkembangan pusat data menjadi salah satu peluang investasi yang dinilai menjanjikan.
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengutip Mordor Intelligence menyebut nilai pasar pusat data Indonesia mencapai sekitar 1,44 miliar dolar Amerika Serikat (AS) pada 2025 dan diperkirakan meningkat menjadi 1,83 miliar dolar AS pada 2026.
Nilai tersebut diproyeksikan terus tumbuh menjadi 3,48 miliar dolar AS pada 2031, dengan laju pertumbuhan tahunan majemuk (compound annual growth rate/CAGR) sebesar 13,71 persen.
Baca juga: TrendAI bangun pusat data lokal dukung keamanan siber
Baca juga: Kemkomdigi perkuat kedaulatan digital lewat tiga agenda prioritas
Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































