Jakarta (ANTARA) - Konsultan properti Jones Lang LaSalle atau JLL menilai Indonesia berpeluang menjadi tujuan investasi pusat data (data center) di kawasan Asia Tenggara seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan.
Country Head and Head of Logistics & Industrial JLL Indonesia Farazia Basarah dalam taklimat media di Jakarta, Selasa, mengatakan arus investasi data center ke Indonesia antara lain dipengaruhi keterbatasan pengembangan di sejumlah negara tetangga.
Menurut dia, sekitar lima hingga tujuh tahun lalu Singapura menjadi salah satu lokasi utama pengembangan data center. Namun, pemerintah Singapura kemudian menerapkan moratorium pembangunan data center karena tingginya konsumsi listrik sektor tersebut.
“Setelah itu development data center akhirnya beralih ke Malaysia dan Batam. Di Malaysia kita melihat di Johor Bahru, semuanya menarik ke Johor Bahru,” kata Farazia.
Namun, pembangunan data center di Johor Bahru kemudian merambah kawasan komersial dan residensial. Kondisi tersebut memunculkan masukan dari masyarakat setempat karena pembangunan pusat data dinilai mengganggu lingkungan sekitar.
Menurut Farazia, pemerintah Johor Bahru akhirnya menerapkan moratorium sehingga ekspansi data center di kawasan tersebut tidak lagi dapat dilakukan secara ekspansif.
“Akibat dari itu, demand akhirnya langsung ke Indonesia, yaitu di Batam dan juga Jakarta,” ujarnya.
Farazia mengatakan Jakarta telah menjadi lokasi pengembangan data center sejak sekitar 2018-2019, terutama untuk mendukung layanan cloud. Namun, skala pengembangannya kini jauh lebih besar seiring meningkatnya kebutuhan data.
Menurut dia, Indonesia memiliki sejumlah faktor yang mendukung pertumbuhan industri data center, termasuk jumlah penduduk yang besar dan tingkat penetrasi internet yang mencapai sekitar 81 persen.
“Dari 290 juta penduduk dan kita melihat Gen Z dan milenial yang benar-benar melek data dan social media, itu juga menambahkan requirement kebutuhan data center,” katanya.
“Itu adalah salah satu potensi mengapa Indonesia sekarang menjadi pusat destinasi data center,” katanya menambahkan.
Meski demikian, Farazia mengingatkan bahwa investasi data center memiliki karakteristik berbeda dengan industri manufaktur dari sisi penyerapan tenaga kerja.
Dia mencontohkan pembangunan pabrik dengan luas lahan yang sama berpotensi menciptakan lapangan kerja lebih banyak dibandingkan fasilitas data center.
“Kalau membangun pabrik, misalnya pabrik mobil, mungkin bisa menyerap 500 sampai 1.000 tenaga kerja. Sedangkan data center dengan 20-40 hektare mungkin tidak banyak tenaga kerjanya,” kata Farazia.
Untuk itu, menurut dia, pemerintah perlu memastikan pertumbuhan data center memberikan efek berganda melalui terbentuknya industri pendukung dan ekosistem teknologi di dalam negeri.
Baca juga: JLL: Kebutuhan lahan bangun pusat data di Indonesia terus meningkat
Baca juga: Wali Kota: Batam transformasi ke sektor industri berteknologi tinggi
Baca juga: RI tawarkan peluang investasi data center kepada pelaku usaha China
Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































