Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Barat (Jakbar) bersama Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) mencanangkan Gerakan Tanam Pangan Pendamping Beras se-DKI Jakarta dengan memanfaatkan 135 lokasi lahan terbatas di wilayah perkotaan, Senin.
Ketua TP PKK Jakarta Barat Eka Ali Murthadho mengatakan lokasi tersebut terdiri dari 56 titik penggiat urban farming kelurahan, sembilan gedung kantor, 12 lingkungan sekolah, dan 58 Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA).
"Gerakan ini mendorong kemandirian pangan keluarga sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan lahan terbatas di perkotaan," ujar Eka saat dikonfirmasi di Jakarta, Senin.
Untuk mendukung kegiatan tersebut, kata dia, Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (Sudin KPKP) Jakarta Barat menyalurkan berbagai bibit dan sarana produksi pertanian, antara lain ubi jalar, singkong, jagung, pisang, serta porang.
Baca juga: Pram tekankan pentingnya pemenuhan hak dasar pangan bagi tiap warga
Pengembangan pangan pendamping beras di Jakarta Barat juga telah menghasilkan panen sebanyak lebih dari satu ton sepanjang Januari hingga Agustus 2026.
Hasil tersebut meliputi labu madu 600,92 kilogram (kg), jagung 455,5 kg, singkong 120 kg, ubi jalar 116 kg, pisang 54 kg, dan sukun 40 kg.
Menurut Eka, pengelolaan urban farming di area rooftop memiliki sejumlah tantangan, terutama terpaan angin kencang dan cuaca panas.
Untuk memastikan pemeliharaan itu berjalan berkelanjutan, Pemkot Jakarta Barat telah menerbitkan Surat Keputusan (SK) kepengurusan lintas sektoral.
"Melalui gerakan ini, masyarakat diharapkan semakin aktif memanfaatkan pekarangan dan lahan terbatas untuk menghasilkan pangan lokal sekaligus memperkuat ketahanan pangan keluarga," tutur Eka.
Baca juga: Dinas KPKP sebut Jakarta punya lebih dari 1.600 lokasi "urban farming"
Baca juga: Jakbar sosialisasikan "urban farming"
Pewarta: Redemptus Elyonai Risky Syukur
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































