Istanbul (ANTARA) - Iran dan Amerika Serikat (AS) berhasil mencapai kesepakatan pada "sebagian besar" isu yang dibahas dalam perundingan, tetapi hal itu bukan berarti kesepakatan akan diteken dalam waktu dekat, kata Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran.
"Adalah benar kami telah mencapai kesepakatan pada sebagian besar isu yang didiskusikan," kata Juru Bicara Kemlu Iran Esmaeil Baghaei kepada wartawan, Senin, menurut laporan kantor berita IRNA.
"Tetapi jika dengan begitu dikatakan bahwa sebuah kesepakatan akan segera ditandatangani, tidak boleh ada siapapun yang membuat klaim semacam itu," katanya menambahkan.
Baqhaei mengatakan, kemajuan yang dilaporkan dalam beberapa hari terakhir adalah hasil dari negosiasi selama berpekan-pekan melalui mediasi Pakistan, meski sejumlah negara lain juga berperan besar dalam prosesnya.
Adapun terkait Selat Hormuz, Jubir Kemlu Iran mengatakan, tanggung jawab pengelolaan jalur laut yang strategis tersebut ada pada negara pesisirnya.
Teheran terus menjalin komunikasi dengan negara-negara yang berbatasan dengan Selat Hormuz dalam upaya menjaga keamanan dan melindungi kepentingan mereka, katanya.
Pernyataan pejabat Kemlu Iran tersebut disampaikan menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump pada Sabtu bahwa kesepakatan damai dengan Iran "sebagian besar telah dinegosiasikan" dan akan segera dilakukan finalisasi.
Ketegangan di kawasan Teluk mengalami peningkatan menyusul serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada Februari. Teheran merespons dengan melancarkan serangan balasan terhadap Israel dan sekutu-sekutu AS di kawasan serta menutup Selat Hormuz.
Gencatan senjata berhasil tercapai pada 8 Mei melalui mediasi Pakistan, dengan Presiden Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata hingga waktu yang tidak ditentukan.
Sumber: Anadolu
Baca juga: Jubir: Iran fokus upayakan cara terbaik lindungi kepentingan nasional
Baca juga: Media: Kerangka kesepakatan AS-Iran telah capai 95 persen
Penerjemah: Nabil Ihsan
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































