Jakarta (ANTARA) - Institut Leimena menyebutkan Pancasila menegaskan berbagai nilai universal sebagai fondasi bangsa Indonesia, yang juga relevan bagi dunia.
“Dengan tren dunia akan maraknya xenophobia, Pancasila yang didasari penghormatan terhadap martabat manusia dan semangat gotong royong semakin penting untuk diaktualisasikan secara nyata dan konsisten dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” kata Direktur Eksekutif Institut Leimena Matius Ho dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.
Penegasan itu disampaikan Matius dalam Webinar Internasional Seri Literasi Keagamaan Lintas Budaya, Jumat (29/5) malam.
Ia mengatakan, kohesi sosial menjadi hal penting yang semakin sering dibahas dalam forum-forum internasional seiring dengan meningkatnya secara global sentimen xenophobia, yaitu ketakutan atau kebencian akan orang yang dianggap berbeda.
Matius mengatakan Pancasila termaktub dalam alinea terakhir Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yang alinea pertamanya dimulai dengan menegaskan nilai-nilai universal sebagai fondasi, seperti kemerdekaan, perikemanusiaan dan perikeadilan.
Baca juga: DPP PDIP perkirakan Megawati hadiri peringatan Hari Lahir Pancasila
Tiga tahun kemudian, sambung dia, nilai-nilai itu, yakni kemerdekaan, martabat manusia, dan keadilan, juga ikut ditegaskan dalam alinea pertama Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia yang dinyatakan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).
Lebih jauh lagi, ia menuturkan Presiden Ke-1 RI Soekarno, dalam pidato Lahirnya Pancasila, tanggal 1 Juni 1945 menyebutkan bahwa jika Pancasila diperas menjadi satu sila, maka kata Soekarno, “dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan gotong-royong”.
Disebutkan bahwa Soekarno menyatakan “Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong-royong!”.
Oleh karenanya, ia menyambut baik kerja sama dengan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Hukum Kementerian Hukum yang dimulai awal tahun 2025 karena pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) sangat sejalan, bahkan dapat ikut memperkuat kompetensi sosial kultural Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai perekat bangsa.
Matius menyampaikan program LKLB yang dimulai sebagai pelatihan guru sekolah dan madrasah pada tahun 2021 menjadi semakin lengkap dan telah melatih 11 ribu lebih pendidik, termasuk ASN.
Baca juga: LAN: ASN harus jadi teladan etika digital berdasarkan Pancasila
Menurutnya, hal itu terjadi berkat “gotong royong” dengan BPSDM Hukum dan puluhan lembaga mitra lainnya, termasuk lembaga pendidikan, organisasi keagamaan, dan pemerintah pusat maupun daerah.
“Kami berharap kerja sama ini dapat semakin berkembang demi kebaikan seluruh masyarakat, bangsa, dan negara,” ujar dia.
Sementara itu, anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan Senior Fellow Institut Leimena Amin Abdullah menilai Pancasila menekankan pentingnya pemahaman dan penafsiran “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai “Ketuhanan yang Berkebudayaan”.
Artinya, kata dia, beragama dengan cara berkeadaban, tiada egoisme agama, menghormati agama-agama lain, dan berbudi pekerti luhur.
“Konsep Ketuhanan yang Berkebudayaan sejalan dengan yang dikembangkan LKLB dengan tiga kompetensinya, yaitu pribadi artinya memahami agama sendiri, komparatif artinya mengenal agama lain, dan kolaboratif yaitu mampu bekerja sama di dalam perbedaan,” kata Amin.
Baca juga: Kemenkum dorong Pancasila jadi "living ideology" di ruang digital
Amin berpendapat program LKLB ikut mendukung pendidikan Indonesia agar tidak semata menghasilkan generasi muda siap kerja, tetapi mampu berhubungan sosial secara damai, saling menghormati, dan bekerja sama dengan orang atau kelompok lain yang berbeda.
Beri inspirasi
Vice President G20 Interfaith Forum Katherine Marshall mengatakan dalam situasi polikrisis, menjadi keniscayaan bahwa keberagaman akan mengakibatkan konflik dan perpecahan.
Namun, dirinya menilai kepemimpinan Indonesia dalam G20 telah menunjukkan contoh nyata bahwa ideologi Pancasila, yang telah bertahan begitu lama, mampu dijalani sebagai realitas hidup sehari-hari.
Ditambahkan ia bahwa Indonesia, dengan program LKLB, juga memberikan inspirasi tentang kompetensi yang harus dimiliki untuk hidup dalam masyarakat majemuk.
Baca juga: Wamenkum tegaskan Pancasila tak boleh mandek jadi teori di atas kertas
“Pancasila melampaui toleransi menjadi penghormatan, kepedulian, dan cinta kasih, artinya tidak hanya menerima yang lain tapi sungguh-sungguh memahami dan peduli,” kata Katherine.
Direktur Pusat Internasional untuk Studi Hukum dan Agama di Fakultas Hukum Brigham Young University, Amerika Serikat Brett Scharffs mengelaborasi lima sila dalam Pancasila dalam kaitannya dengan martabat manusia.
Salah satunya, lanjut dia, sila kedua yang berbunyi "Kemanusiaan yang adil dan beradab”, yang sangat terkait dengan dimensi martabat manusia di berbagai belahan dunia lain, seperti filosofi “ubuntu” dari Afrika Selatan.
“Martabat manusia meningkatkan efektivitas kelembagaan, kantor, pemerintah, dan sekolah, karena masyarakat akan cenderung lebih kohesif dan inovatif, serta lebih bertahan dan berkelanjutan. Orang akan memberi yang terbaik, apabila mereka merasa dihormati dan berharga,” kata Brett.
Pewarta: Agatha Olivia Victoria
Editor: Edy Sujatmiko
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































