Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan pihaknya telah mengintegrasikan skrining kanker kolorektal atau kanker usus ke dalam Program Cek Kesehatan Gratis Nasional (CKG) yang menyasar masyarakat usia 45 tahun ke atas yang dianggap memiliki risiko tinggi.
"Pendekatan berlapis yang kami lakukan dimulai dengan kuesioner skrining kolorektal Asia Pasifik, dilanjutkan dengan pemeriksaan colok dubur digital dan tes darah samar tinja (Fecal Occult Blood Test/FOBT) bagi individu yang berisiko tinggi," ujar Wamenkes dalam sambutannya secara daring dari Jakarta, Sabtu.
Kanker kolokteral diakuinya menjadi tantangan dalam kesehatan nasional, karena mayoritas pasien datang ke fasilitas kesehatan dalam kondisi stadium lanjut.
"Jika 100 pasien kanker kolorektal datang ke fasilitas kesehatan kita hari ini, lebih dari 70 di antaranya akan datang dalam kondisi stadium lanjut. Bukan karena mereka lalai, bukan karena penyakit ini tidak dapat ditangani, melainkan karena tidak ada yang mendeteksinya cukup dini," ujarnya pula.
Baca juga: Ahli sebut kanker kolorektal bisa dicegah melalui pola hidup sehat
Wamenkes juga menegaskan bahwa kanker kolokteral menjadi persoalan yang juga mendesak pada bidang onkologi secara global, setidaknya tercatat 1,9 juta kasus baru setiap tahun dan menjadi kanker ketiga paling umum di dunia.
Sementara di Indonesia, kanker ini peringkat keempat di Indonesia dan juga penyebab kematian peringkat kelima akibat kanker dengan lebih dari 19.000 kematian setiap tahun.
Dari 5 juta peserta yang telah menjalani skrining, pihaknya menemukan 9.000 hasil positif melalui pemeriksaan colok dubur dan 2.000 hasil positif melalui tes FOBT, dan angka tersebut hanya berasal dari peserta yang melanjutkan proses pemeriksaan.
Sementara itu, Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi mengatakan bahwa penanganan kanker termasuk kanker kolorektal saat ini ditanggung oleh layanan BPJS Kesehatan, namun demikian tidak semua obat sebagai terapi pengobatan kanker ditanggung.
"Tapi memang ada obat-obat tertentu, apa mungkin targeted therapy, kemudian obat targeted therapy biasanya untuk metastasis ya, yang udah menyebar kemana-mana ya. Itu mungkin belum semuanya masuk ke dalam BPJS ya, karena memang harganya mahal," katanya.
Meski demikian untuk obat yang bersifat umum atau general masih ditanggung oleh layanan BPJS Kesehatan.
Dengan demikian, pihaknya pun menyerukan masyarakat untuk melakukan langkah-langkah pencegahan dengan menerapkan pola hidup sehat serta banyak mengonsumsi sayur dan buah, sementara pemerintah, kata dia, akan terus mengedukasi masyarakat mengenai kanker ini.
Baca juga: Kejadian kanker usus besar 30 persen terjadi di bawah usia 40 tahun
Baca juga: Hindari sering mengonsumsi makanan ini, bisa picu kanker usus besar!
Baca juga: Makanan olahan berisiko tingkatkan kasus kanker usus
Pewarta: Sinta Ambarwati
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































