Jepang dan Taiwan bagikan kiat tekan jumlah pasien kanker kolorektal

2 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) - President The Japanese Society of Gastrointestinal Cancer Screening, Prof. Takahisa Matsuda, MD, PhD memaparkan bahwa Jepang telah menerapkan skrining tahunan dengan Fecal Immunochemical Test (FIT) sejak usia 40 tahun sebagai langkah pertama yang paling realistis dan berbasis bukti terkait penanganan kanker kolorektal.

"FIT memiliki keunggulan: biaya rendah, non-invasif, skalabel, dan terbukti menurunkan mortalitas. Namun, tantangan terbesar di Jepang bukan pada tes FIT-nya, melainkan pada kolonoskopi diagnostik lanjutan. Sekitar 30 persen individu dengan hasil FIT positif tidak menjalani kolonoskopi lanjutan. Ini adalah pekerjaan rumah besar yang juga akan dihadapi Indonesia," ujar Prof. Matsuda dalam The 3rd Gastrointestinal Oncology Summit 2026 di Jakarta, Sabtu.

Berbeda dengan pendekatan Jepang, Prof. Han-Mo Chiu, MD, PhD, dari National Taiwan University & Hospital, memaparkan keberhasilan program skrining di Taiwan yang terstruktur sejak 2004 melalui program FIT dua tahunan, yang disebut berhasil menurunkan 35 persen mortalitas kanker kolorektal dan 29 persen insiden kanker stadium lanjut pada peserta skrining.

Baca juga: Wamenkes: Skrining kanker kolorektal telah diintegrasikan dengan CKG

"Keberhasilan program skrining tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi oleh koordinasi sistemik yang terintegrasi. Taiwan membangun sistem call-recall, standardisasi laporan patologi, serta pengawasan kualitas kolonoskopi yang ketat, termasuk adenoma detection rate (ADR). Sejak 2025, kami bahkan menurunkan usia inisiasi skrining menjadi 45 tahun karena meningkatnya insiden early-onset CRC," ujar Prof. Chiu.

Sementara itu, dalam penanganan kanker kolorektal di Indonesia Kepala Human Cancer Research Centre (HCRC) Indonesian Medical Education and Research Institute (IMERI) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof. DR Dr Murdani Abdullah, FACG, FASGE, menyoroti bahwa prosedur layanan pemeriksaan medis untuk melihat bagian dalam usus besar masih terbatas.

"Kapasitas kolonoskopi Indonesia saat ini sangat terbatas, sementara populasi kita mencapai 281 juta jiwa dengan luas wilayah lima kali lipat Jepang dan ribuan pulau berpenghuni. Karena itu, strategi kita harus bertahap: pilot project FIT di fasilitas primer, kolonoskopi terkonsentrasi di rumah sakit kabupaten/kota, dan penguatan sistem rujukan digital," katanya.

Dalam gelaran The 3rd Gastrointestinal Oncology Summit 2026 ini pun menghasilkan rekomendasi yang meliputi implementasi bertahap program FIT terstruktur dimulai dari wilayah percontohan kemudian peningkatan kapasitas dan mutu kolonoskopi.

Integrasi data dan registri nasional, edukasi massal dan inovasi digital serta stratifikasi risiko yakni menerapkan sistem scoring (seperti model 8-point dari Jepang) untuk memprioritaskan pasien risiko tinggi ke kolonoskopi.

Baca juga: Ahli sebut kanker kolorektal bisa dicegah melalui pola hidup sehat

Baca juga: Kejadian kanker usus besar 30 persen terjadi di bawah usia 40 tahun

Baca juga: Ini jenis kanker yang paling banyak mengenai usia di bawah 50 tahun

Pewarta: Sinta Ambarwati
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |