Indef: Kenaikan harga cabai saat lebaran ikuti pola musiman

2 hours ago 3
Potensi kenaikan harga saat Lebaran pasti terjadi. Namun beberapa komoditas termasuk cabai harganya akan turun kembali

Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai kenaikan harga beberapa komoditas termasuk cabai pada periode Lebaran merupakan pola musiman yang terjadi hampir setiap tahun.

Esther menilai kenaikan harga tersebut bersifat sementara dan berpotensi akan berangsur turun setelah periode Lebaran.

“Potensi kenaikan harga saat Lebaran pasti terjadi. Namun beberapa komoditas termasuk cabai harganya akan turun kembali,” kata Esther kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.

Ia mengatakan lonjakan harga cabai secara garis besar dipicu peningkatan permintaan masyarakat selama momentum hari raya serta kondisi pasokan di tingkat produksi.

Baca juga: Indef nilai stok dan distribusi kunci stabilitas harga pangan

Baca juga: INDEF prediksi momen Lebaran dorong pertumbuhan hingga 5,2 persen

Menurut dia, gangguan cuaca di sejumlah daerah sentra produksi turut menekan ketersediaan cabai di pasar.

“Harga cabai meningkat tajam, sedangkan harga bawang meningkat tetapi tidak setinggi harga cabai. Harga cabai lebih mahal karena pasokan berkurang akibat area tanam cabai terendam air,” ujarnya.

Esther menambahkan harga komoditas yang cenderung naik saat periode Lebaran akan berangsur normal apabila pasokan dapat dijaga dengan baik.

“Harga akan turun jika pasokan komoditas terjaga,” ungkapnya.

Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) menunjukkan harga cabai rawit merah secara nasional sempat menembus Rp104.050 per kilogram pada 25 Maret 2026.

Meski demikian, Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat sejumlah komoditas hortikultura secara nasional masih dalam kondisi surplus hingga April 2026.

Ketersediaan cabai rawit pada awal Maret diperkirakan mencapai sekitar 105 ribu ton, cabai besar 74 ribu ton, serta bawang merah sekitar 57 ribu ton.

Namun, distribusi pasokan yang tidak merata akibat gangguan cuaca tetap berpotensi menyebabkan fluktuasi harga di tingkat konsumen.

Di sisi lain, harga beras dinilai lebih stabil karena didukung oleh ketersediaan cadangan yang memadai.

Pemerintah mencatat total ketersediaan beras nasional pada awal Maret 2026 mencapai sekitar 27,99 juta ton dengan stok Perum Bulog sekitar 3,7 juta ton, stok masyarakat sekitar 12,50 juta ton, serta standing crop sebesar 11,73 juta ton.

Dengan tingkat konsumsi rata-rata nasional sekitar 2,5 juta ton per bulan, kondisi tersebut dinilai mampu menjaga stabilitas harga beras di pasar.

Baca juga: Indef: RI perlu siapkan strategi jaga ekonomi di tengah tekanan global

Baca juga: Indef nilai daya beli masyarakat harus dijaga di tengah tekanan global

Pewarta: Aria Ananda
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |