Energi air dan tanggung jawab keberlanjutan

1 hour ago 3

Jakarta (ANTARA) - Transisi energi menuju sumber yang lebih bersih, kini menjadi agenda global yang tidak bisa ditunda. Pertanyaannya bukan lagi sekadar bagaimana menghasilkan listrik dengan emisi karbon rendah, melainkan bagaimana memastikan bahwa energi tersebut tidak menciptakan persoalan baru bagi lingkungan dan masyarakat.

Dalam konteks inilah, pembangkit listrik tenaga air (PLTA) hadir sebagai solusi, sekaligus menyimpan dilema yang perlu dikelola secara bijak.

Di tengah upaya dunia mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, energi air sering dipandang sebagai salah satu sumber energi terbarukan yang paling menjanjikan. Teknologi ini telah digunakan selama lebih dari satu abad dan hingga kini masih menjadi penyumbang terbesar energi terbarukan dalam sistem kelistrikan global.

Salah satu keunggulan utama PLTA adalah kemampuannya menghasilkan listrik dengan emisi karbon yang relatif rendah. Secara global, intensitas emisi pembangkit listrik tenaga air diperkirakan sekitar 24 gram CO₂e per kWh, jauh lebih rendah dibandingkan pembangkit listrik berbahan bakar gas yang dapat mencapai lebih dari 300 gram CO₂e per kWh.

Selain itu, PLTA juga mampu menyediakan listrik yang stabil dan fleksibel. Dalam sistem energi modern yang semakin banyak mengandalkan energi surya dan angin yang bersifat fluktuatif karena bergantung pada kondisi cuaca, PLTA berperan penting sebagai penyeimbang yang membantu menjaga stabilitas jaringan listrik.

Di Indonesia, potensi energi air sebenarnya sangat besar, diperkirakan mencapai lebih dari 75 gigawatt (GW). Hanya saja, pemanfaatannya masih tergolong rendah, baru sekitar 10 persen. Hingga 2025, kapasitas terpasang PLTA nasional berada di kisaran 6–7 GW, menjadikannya salah satu tulang punggung energi terbarukan, selain panas bumi.

Pemerintah menargetkan peningkatan kapasitas melalui pembangunan bendungan dan PLTA baru, terutama di Kalimantan dan Papua. Meski demikian, sejumlah proyek juga menghadapi tantangan, mulai dari persoalan lingkungan, keterlambatan pembangunan, hingga penolakan masyarakat lokal. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan energi air bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal tata kelola yang sensitif terhadap kondisi sosial dan lingkungan.

Dilema ekologis

Di balik kontribusinya terhadap pengurangan emisi karbon, pembangunan PLTA juga membawa sejumlah konsekuensi lingkungan dan sosial yang tidak bisa diabaikan.

Bendungan skala besar dapat mengubah ekosistem sungai secara signifikan. Jalur migrasi ikan dapat terputus, aliran sedimen yang penting bagi ekosistem di wilayah hilir terganggu, dan dinamika alami sungai menjadi berubah.

Dalam beberapa kasus, pembentukan waduk juga menenggelamkan hutan maupun lahan produktif yang sebelumnya menjadi bagian dari sistem ekologis dan ekonomi masyarakat setempat.

Dari sisi sosial, pembangunan PLTA sering kali memerlukan relokasi masyarakat yang tinggal di wilayah yang akan tergenang. Bagi sebagian komunitas, perpindahan ini tidak hanya berarti kehilangan rumah, tetapi juga kehilangan sumber penghidupan serta hubungan kultural dengan tanah yang telah mereka tempati selama beberapa generasi.

Pengalaman di berbagai negara menunjukkan bahwa proyek PLTA yang tidak dikelola dengan baik dapat memicu konflik sosial yang berkepanjangan.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |