Mataram (ANTARA) - Kajian lembaga pemikir nirlaba Institute for Essential Services Reform (IESR) menyebutkan Pulau Sumbawa di Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki potensi energi terbarukan yang bersumber dari tenaga surya sebanyak 8,64 gigawatt.
Chief Executive Officer (CEO) IESR Fabby Tumiwa mengatakan potensi sebesar itu mampu menopang kebutuhan listrik berbasis energi bersih hingga 100 persen bagi Pulau Sumbawa.
"Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan pembangunan 100 gigawatt energi surya di sekitar 80 ribu desa. Kami melihat itu sebagai momentum bagi daerah untuk berkontribusi dalam pencapaian target nasional," ujar dia dalam pernyataan di Mataram, Kamis.
Fabby mengatakan pihaknya telah menerbitkan kajian bertajuk Pulau Berbasis 100 Persen Energi Terbarukan dan Fleksibilitas pada Sistem Tenaga Listrik.
Hasil kajian tersebut menunjukkan Pulau Sumbawa memiliki total potensi energi terbarukan sebanyak 10,21 gigawatt dengan 8,64 gigawatt di antaranya atau setara 84,53 persen adalah tenaga surya.
Menurut dia, potensi itu menjadi modal penting bagi Nusa Tenggara Barat dalam menyusun strategi transisi energi dan mewujudkan target emisi nol bersih pada 2050 mendatang.
Fabby menilai pengalaman menyusun peta jalan Bali Emisi Nol Bersih 2045 yang dilakukan IESR dapat menjadi referensi bagi Nusa Tenggara Barat dalam merancang kebijakan serupa.
"Kami dapat memberikan masukan strategis untuk mengarusutamakan energi terbarukan. Dalam masa transisi energi seperti saat ini, inisiatif emisi nol bersih juga perlu mendapat dukungan kuat dari pemerintah pusat," ujar dia.
Sementara itu, Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhamad Iqbal menyambut positif dukungan lembaga pemikir nirlaba tersebut dalam penyusunan peta jalan Emisi Nol Bersih 2050.
Ia menyatakan Nusa Tenggara Barat membutuhkan arah pembangunan yang terukur agar proses transisi energi bisa berjalan efektif sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
"NTB memiliki peluang besar untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja energi terbarukan, baik di dalam negeri maupun pasar internasional," kata Iqbal.
Pewarta: Sugiharto Purnama
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































