Jakarta (ANTARA) - Kementerian Agama melaporkan Gerakan Bersih-Bersih Masjid (Geber Mas) 2026 secara nasional diikuti lebih dari 50 masjid dan mushala di Indonesia yang mengikuti gerakan kerja bakti massal tersebut.
“Rumah ibadah adalah meeting point antara hamba dengan Tuhan. Bagaimana orang bisa berkonsentrasi dalam ibadah kalau tempatnya kotor, pengap, atau tidak nyaman?,” ujar Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Geber Mas 2026 dipusatkan dari Masjid Fatahillah, Balai Kota DKI Jakarta. Gerakan tersebut bukan sekadar kerja bakti massal, melainkan upaya membangun kesadaran ekologis melalui rumah ibadah.
Menag menempatkan kebersihan rumah ibadah dalam perspektif yang lebih luas. Ia menyebut masjid bukan sekadar bangunan fisik, melainkan ruang sakral yang menjadi titik perjumpaan manusia dengan Tuhan.
Karena itu, menurut Menag, merawat kebersihan masjid sejatinya merupakan upaya menjaga kehormatan rumah ibadah sekaligus memperkuat kualitas spiritual masyarakat.
Ia menjelaskan konsep kebersihan dalam ajaran agama tidak hanya menyangkut aspek fisik, tetapi juga mencakup kebersihan batin. Namun, kebersihan fisik tetap menjadi prasyarat penting untuk menghadirkan suasana ibadah yang khusyuk.
Baca juga: Kemenag luncurkan gerakan bersih-bersih masjid sambut HUT ke-81 RI
Imam Besar Masjid Istiqlal itu mengajak masyarakat menjadikan kegiatan membersihkan masjid sebagai gerakan bersama yang melibatkan seluruh anggota keluarga.
Menurutnya, budaya gotong royong membersihkan rumah ibadah perlu dihidupkan kembali agar masjid tidak hanya ramai saat shalat, tetapi juga menjadi ruang yang dirawat bersama oleh jamaah.
“Datanglah ke masjid bersama keluarga. Bersihkan karpetnya, toiletnya, lingkungannya, perbaiki yang rusak. Jangan hanya masjidnya yang dibersihkan, tetapi juga selokan dan area di sekitarnya,” kata dia.
Menag mengaitkan Geber Mas dengan agenda besar Kementerian Agama dalam membangun rumah ibadah yang berdampak bagi masyarakat.
Ia menegaskan masjid harus berkembang menjadi pusat pemberdayaan umat yang tidak hanya melayani kebutuhan spiritual, tetapi juga sosial, pendidikan, ekonomi, dan kebudayaan.
Direktur Jenderal Bimas Islam Kemenag Abu Rokhmad mengatakan Geber Mas merupakan bagian dari rangkaian kegiatan peringatan Muharram sekaligus implementasi dua program prioritas Menteri Agama, yakni penguatan ekoteologi dan pemberdayaan rumah ibadah.
“Gerakan ini juga menjadi bagian dari upaya mendukung Indonesia yang bersih, sehat, resik, dan indah. Karena itu, hari ini diikuti lebih dari 50 ribu masjid dan mushola di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Ia menegaskan Geber Mas tidak boleh berhenti pada peluncuran semata. Menurutnya, gerakan tersebut harus menjadi budaya baru yang terus dijalankan oleh pengurus masjid, masyarakat, dan terutama para penyuluh agama.
Abu Rokhmad menyebut sejumlah area yang selama ini kerap luput dari perhatian menjadi fokus utama gerakan, seperti toilet, kamar mandi, tempat wudhu, saluran air, hingga lingkungan sekitar rumah ibadah.
Baca juga: Tingkatkan nilai tambah sosial, DMI tekankan basis data masjid
Baca juga: Kemenag terbitkan 40 buku digital PAI dan dapat diunduh gratis
Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































