Festival rakik-rakik, cahaya yang menyala di tengah luka Maninjau

1 day ago 5

Agam (ANTARA) - Di Danau Maninjau, Kabupaten Agam, malam takbiran turun perlahan seperti tirai yang ditarik dari langit. Riak air memantulkan cahaya-cahaya kecil yang mulai menyala, sementara gema takbir ari masjid berbaur dengan embusan angin yang bergerak pelan.

Dari pinggir jalan yang bersisian dengan sungai gelap, bayang-bayang cahaya tampak berpendar samar. Ia menjadi penanda bahwa di tepian sana, aktivitas warga tengah berlangsung.

Jalan tak rata, bertabur bebatuan, bermuara ke tepian danau di Nagari Maninjau di wilayah Sumatra Barat itu. Di titik itulah, sekitar tiga puluh pemuda bergerak sigap, menangkap instruksi para orang tua. Mereka mengusung miniatur Rumah Gadang berbahan kertas plastik menuju air.

“Awas aia angek (air panas),” seru seorang pemuda yang menopang miniatur rumah adat Minangkabau yang disebut telong-telong.

Seruan itu memecah perhatian warga yang sejak tadi menatap rakit tradisional, mengapung dengan bantuan drum, dilapisi papan kayu sepanjang sekitar 10 meter.

Di salah satu sisinya, mesin terpasang, bersiap menggerakkan rakit menembus permukaan danau. Sebagian badan rakit tertutup ruang persegi berkerangka bambu, dihias dedaunan kering yang berdesir setiap disentuh angin.

Di sepanjang tepian Danau Maninjau, warga berdiri dalam kelompok-kelompok kecil; sebagian lainnya memilih jongkok, seakan tubuh mereka tak lagi kuat menahan lama berdiri, namun tetap enggan beranjak dari momen yang dinanti.

Suara orang dewasa terdengar lirih, nyaris tenggelam dalam lapisan bunyi yang saling bertaut—riak air yang berdesir, embusan angin yang melintas pelan, serta dengung mesin genset.

Di sela-sela itu, suara gim dari telepon genggam anak-anak sesekali menyembul, menjadi kontras kecil yang ganjil, namun akrab, di tengah tradisi yang tetap bertahan dan berakar.

Angin malam kian dingin merayap. Rakit tradisional itu pun berdiri utuh. Cahaya yang mula-mula bersumber dari satu lampu besar, perlahan berganti menjadi gemerlap lampu LED yang menghiasi ornamen, berpadu dengan obor-obor yang melingkari bagian depan, menciptakan pendar hangat di atas air yang gelap.

Miniatur Rumah Gadang berdiri berdampingan dengan Rangkiang—lumbung penyimpan padi yang menjadi simbol kesejahteraan. Di atasnya, ornamen beragam bentuk tersusun menjulang, mencipta siluet yang tegas dalam cahaya malam, sementara pada sisi-sisinya, bendera warna-warni berkibar pelan, disentuh angin yang melintas dari permukaan Danau Maninjau.

Mesin penggerak tak lagi memiliki ruang lapang di depannya. Deretan batuang (meriam bambu) berdiri berjajar, sesekali meledak memekakkan telinga. Di dalamnya, kalium karbida, senyawa kristal berwarna abu-abu kehitaman, bereaksi menghasilkan gas asetilena yang memicu dentuman keras, seolah menandai detak malam yang kian hidup.

Tabuhan gendang tambua tansa bersahut-sahutan dengan ledakan meriam bambu, merangkai irama yang menghidupkan suasana. Warga yang semula duduk lesu, bangkit serentak, mengangkat ponsel, mengabadikan momen yang telah lama mereka nantikan.

Festival rakik-rakik, siap berlayar di atas permukaan Danau Maninjau.

Meracik obat

Sehari sebelum perhelatan, persiapan Festival Rakik-rakik terpantau di Kubu Baru Panyinggahan.

Sekelompok pemuda berkumpul di tepian, menyiapkan rakit-rakit sederhana dari bahan yang telah mereka mulai persiapannya di awal Ramadhan. Tali-temali diikat dengan ketelitian yang lahir dari kebiasaan turun-temurun.

Persiapan berjalan pelan. Semangat kompetisi belum sepenuhnya menyala, seakan masih tertahan oleh bayang-bayang bencana hidrometeorologi yang melanda pada akhir November 2025.

Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |