Pakar nilai kesepakatan damai AS-Iran terganjal agresi Israel

3 hours ago 1

Jakarta (ANTARA) - Dewan Pakar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri Darmansjah Djumala menilai kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran yang sempat terbangun telah terganjal oleh agresi menerus yang dilakukan Israel ke Lebanon.

Dia menilai kesepakatan damai antara AS dan Iran itu memberi secercah harapan baru bagi terciptanya perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah. Namun, menurut dia, jangan terlalu banyak berharap damai segera terwujud, sebab ada ganjalan Israel.

"Meskipun AS dan Iran sudah menyetujui kesepakatan damai, prospeknya di Timur Tengah masih diragukan," kata Darmansjah dalam keterangan di Jakarta, Minggu.

Mantan Duta Besar RI untuk Austria dan PBB itu menilai bahwa setelah bertahun-tahun terjebak dalam siklus konfrontasi, sanksi, dan ancaman militer, kedua negara akhirnya menunjukkan kesediaan untuk menempuh jalur diplomasi sebagai instrumen penyelesaian konflik.

Menurut dia, penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) tersebut memiliki arti strategis untuk menurunkan ketegangan antara Washington dan Teheran yang selama ini menjadi salah satu sumber utama instabilitas kawasan.

Kemudian, dia menilai keberhasilan implementasi MoU akan memperkuat kembali diplomasi dan negosiasi sebagai mekanisme utama dalam menyelesaikan sengketa internasional.

Selain itu, terciptanya hubungan yang lebih konstruktif antara AS dan Iran, kata dia, berpotensi mendorong stabilitas politik dan keamanan di kawasan Teluk dan Timur Tengah secara lebih luas.

Namun, dia mengungkapkan optimisme damai AS-Iran kini menghadapi ujian serius karena serangan militer Israel di Lebanon selatan terjadi lagi hanya berselang dua hari setelah kesepakatan disetujui.

Bagi Iran, menurut dia agresi Israel tidak hanya sebagai ancaman terhadap sekutunya di kawasan, tetapi juga sebagai upaya untuk mempertahankan politik konfrontasi dan menghambat proses normalisasi hubungan AS dan Iran.

Menurut dia, eskalasi di Lebanon Selatan dapat memicu reaksi berantai karena Iran kemungkinan akan menghadapi tekanan domestik maupun regional untuk meningkatkan dukungannya terhadap kelompok-kelompok proksi di kawasan.

Pada saat yang sama, menurut Darmansjah, Amerika Serikat sebagai sekutu utama Israel akan berada dalam posisi yang sulit. Di satu sisi, AS ingin menjaga komitmen dengan Iran, tetapi di sisi lain harus tetap mempertahankan dukungan strategis kepada Israel.

Maka dari itu, dia menilai keberhasilan kesepakatan AS-Iran sangat bergantung pada kemampuan kedua pihak untuk menyelaraskan peredaan eskalasi di Selat Hormuz dengan penghentian agresi Israel di Lebanon.

Di sisi lain, AS juga perlu memainkan peran yang lebih aktif dalam menahan eskalasi militer Israel agar tidak merusak proses diplomasi yang sedang berlangsung. Pasalnya, dia menekankan perdamaian di Timur Tengah tidak bisa dibangun hanya melalui kesepakatan bilateral semata.

"Perdamaian membutuhkan lingkungan regional yang kondusif, pengendalian eskalasi, dan komitmen semua pihak untuk mengedepankan diplomasi dibandingkan penggunaan kekuatan militer," kata Darmansjah.

Baca juga: Dino Patti: RI perlu dorong kepatuhan MoU AS-Iran demi perdamaian

Baca juga: MPR dukung kesepakatan damai AS-Iran demi stabilitas global

Pewarta: Bagus Ahmad Rizaldi
Editor: Benardy Ferdiansyah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |