DPKP Sumedang arahkan petani ke palawija hadapi ancaman El Nino

1 day ago 3

Sumedang (ANTARA) - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, mengarahkan petani menyesuaikan pola tanam dengan menanam komoditas palawija untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan saat menghadapi potensi El Nino atau musim kemarau panjang.

Kepala Bidang Ketahanan Pangan pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sumedang, Iwan Gustiawan, mengatakan penyesuaian pola tanam dilakukan berdasarkan pemetaan wilayah, indeks pertanaman (IP) serta ketersediaan air agar petani tidak mengalami risiko gagal panen.

"Kalau sawah hanya mengandalkan satu kali panen tentu risikonya lebih besar. Petani didorong menyesuaikan pola tanam, kalau memungkinkan bisa dua kali panen atau menanam komoditas lain yang lebih tahan terhadap musim kemarau," katanya di Sumedang, Selasa.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah daerah melakukan pemetaan kerawanan pangan setiap tahun untuk menentukan wilayah yang sesuai ditanami padi maupun komoditas lain yang membutuhkan air lebih sedikit.

"Di Jatinunggal contohnya, sudah ada wilayah yang masuk IP satu sehingga kami arahkan ke komoditas lain. Petani tidak perlu memaksakan karena harus sesuai dengan pemetaan," ujarnya.

Menurut Iwan, saat curah hujan rendah petani dapat beralih ke tanaman palawija seperti jagung, ubi jalar, ubi kayu, maupun komoditas lain agar produksi pangan tetap berjalan sekaligus menjaga pendapatan petani.

Berdasarkan data BPS Kabupaten Sumedang, produksi jagung pipilan Sumedang pada 2025 tercatat mencapai 79.565 ton, sementara komoditas ubi kayu juga memiliki produksi mencapai 88.575 ton berdasarkan data pangan daerah.

Sementara itu, ubi jalar menjadi salah satu komoditas unggulan Sumedang melalui pengembangan Ubi Cilembu dengan pengembangan komoditas tersebut pada sekitar 460 hektare dan produksi sekitar 7.820 ton per tahun.

Hasil produksi palawija tersebut dinilai dapat terus didorong agar dapat menjadi komoditas alternatif dalam menjaga produktivitas ekonomi petani agar tetap bertahan di musim kemarau yang diprediksi berkepanjangan.

Iwan mengatakan bahwa diversifikasi tanaman menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah menghadapi perubahan iklim karena petani memiliki alternatif komoditas ketika kondisi lahan tidak mendukung untuk budidaya padi.

"Yang penting produksi pangan tetap berjalan. Kalau kondisi air tidak memungkinkan untuk padi, bisa dialihkan ke komoditas yang lebih sesuai," katanya.

Selain mendorong diversifikasi tanaman, DPKP Sumedang juga memperkuat Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) sebagai instrumen menjaga ketersediaan pangan saat terjadi gangguan produksi maupun kondisi darurat.

Saat ini stok CPPD Kabupaten Sumedang tercatat sekitar 321,1 ton beras yang berada di atas kebutuhan minimal cadangan pangan daerah yang berada di angka sekitar 220 ton

Ia menjelaskan bahwa CPPD dapat digunakan untuk penanganan bencana alam, kerawanan pangan, maupun kondisi darurat lainnya dengan penyaluran dilakukan berdasarkan usulan desa yang kemudian diverifikasi melalui kecamatan dan petugas terkait.

Pewarta: Ilham Nugraha
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |