Pertamina Geothermal cetak laba 79,61 juta dolar AS di kuartal II-2026

1 day ago 5

Jakarta (ANTARA) - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) membukukan laba bersih yang tumbuh 15,48 persen year on year (yoy) menjadi senilai 79,61 juta dolar AS pada kuartal II-2026.

Laba bersih perseroan ditopang oleh pendapatan yang mencapai 235,03 juta dolar AS pada kuartal II-2026, atau tumbuh 14,7 persen (yoy) dibandingkan senilai 204,85 juta dolar AS pada periode sama tahun sebelumnya.

Direktur Keuangan PGE, Fransetya Hasudungan Hutabarat dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu, mengatakan capaian itu menjadi cerminan konsistensi perseroan dalam menjalankan strategi bisnis yang efektif, efisien, serta berkelanjutan.

“Kinerja perseroan ditopang oleh pertumbuhan produksi dan keandalan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), serta keuntungan selisih kurs yang positif,” ujar Fransetya.

Total produksi perseroan mencapai 2.745 GigaWatt hour (GWh) pada semester I-2026, atau tumbuh 13,62 persen (yoy) dibandingkan sebesar 2.416 GWh pada periode sama tahun sebelumnya.

“Pertumbuhan yang kami catatkan di kuartal ini bukan sekadar angka di atas kertas. Ini adalah bekal bagi PGE untuk terus memperluas manfaat panas bumi bagi masyarakat sekaligus mendorong transisi energi nasional,” ujar Fransetya.

Baca juga: PGE sebut pengembangan panas bumi jadi pilar utama ketahanan energi

Baca juga: PGE “spud in” sumur eksplorasi pertama PLTP Lumut Balai Unit 3

Dari segi permodalan, perseroan mencatatkan ekuitas sebesar 2,01 miliar dolar AS pada kuartal II-2026, atau mencerminkan fondasi keuangan yang sehat dengan kemampuan yang kuat dalam memenuhi kewajiban sekaligus menghasilkan laba.

Di sisi lain, liabilitas perseroan menurun 2,80 persen (yoy) menjadi 961,18 juta dolar AS pada kuartal II-2026, sehingga berdampak positif terhadap penguatan struktur modal serta penurunan risiko keuangan perseroan.

Direktur Utama PGE, Ahmad Yani mengatakan, panas bumi merupakan pilar strategis energi nasional karena sifatnya yang bersih, andal, dan baseload, sehingga cocok untuk menopang sistem kelistrikan di tengah transisi energi.

“Hari ini, PGE bangga menjadi penggerak utama yang mengelola sekitar 70 persen energi panas bumi di seluruh Indonesia, dan Kamojang menjadi bagian penting dari kami. Bagi saya dan seluruh perwira PGE, satu abad ini bukan hanya tentang mengenang sejarah, melainkan juga momentum untuk membuktikan bahwa energi bersih nan melimpah yang kita miliki ini siap mendukung ketahanan energi negeri,” ungkap Ahmad.

Seiring dengan itu, perkembangan sektor Energi Baru Terbarukan (EBT) menunjukkan arah semakin positif, tercermin dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) periode 2025 hingga 2034, yang menargetkan porsi EBT mencapai 76 persen, dengan panas bumi ditargetkan menyumbang kapasitas sebesar 5,2 gigawatt (GW) selama periode tersebut.

Demi mendukung pencapaian target tersebut, PGE menargetkan kapasitas terpasang sebesar 1 GW pada 2028 dan 1,8 GW pada 2033.

Saat ini, PGE mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan kapasitas terpasang mencapai 727 megawatt (MW), serta berkontribusi signifikan terhadap pasokan listrik di berbagai daerah.

Baca juga: PGE gandeng Bank Mizuho perkuat pendanaan pengembangan panas bumi

Baca juga: Pengamat nilai panas bumi jadi opsi strategis jaga keandalan listrik

Baca juga: Ekonom nilai proyek panas bumi tarik minat pendanaan global

Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |