Denpasar (ANTARA) - Seratus tahun lalu, lava membakar habis Desa Batur di dasar kaldera Gunung Batur, Bali. Ribuan orang harus mengungsi dan memindahkan peradaban mereka ke bibir tebing dalam peristiwa yang dikenang sebagai Rarud Batur 1926.
Rarud (pengungsian) besar-besaran, ketika itu, mengajarkan warga lokal cara bertahan hidup dari amukan alam. Hari ini, ancaman terbesar di tanah Batur bukan lagi gemuruh perut gunung, melainkan deru mesin konstruksi dan gempuran investasi.
Satu abad lalu, leluhur Batur menunjukkan kecerdasannya. Alih-alih terpuruk dalam waktu lama, mereka segera membangun desa dan pura baru di tempat yang lebih tinggi, hingga menjadi Batur yang terlihat hari ini.
Beragam potensi ekonomi ikut lahir bersamaan dengan lahirnya lanskap baru kawasan itu.
Satu abad setelah peristiwa rarud, ketangguhan warga Batur kembali diuji, apakah tanah mereka masih menjadi milik warga yang merawatnya atau perlahan berpindah tangan demi pariwisata?
Leluhur yang tangguh
Catatan Sekretaris Senior Adat Batur I Ketut Eriadi Ariana menyebut, pada 1926, permukiman leluhurnya hancur akibat letusan dahsyat yang tidak pernah terbayangkan.
Sejak awal Agustus hingga September tahun itu, Gunung Batur memuntahkan lelehan lava, sehingga warga harus mengungsi dan mengumpulkan semua yang masih bisa diselamatkan.
Siapa sangka, mereka masih bepikir untuk menyelamatkan seluruh arca yang ada di Pura Ulun Danu Batur lama; gong, pralingga, Prasasti Rajapurana, termasuk satu rangka bangunan suci Jero Agung yang kini sudah aman di Pura Ulun Danu Batur yang sekarang.
“Mreren dumun, tyang kari metaki-taki,” demikian kiranya teriakan permohonan yang diucap warga ke lava yang merayap kala itu. Mereka memohon lava berhenti sebentar saja, karena mereka harus mengambil benda-benda di pura.
Melihat desa yang rata dengan tanah dilibas lava tidak menjadikan warga Desa Batur menyerah. Rasa solidaritas membuat mereka tangguh membangun desa yang baru, pura yang baru, dengan bentang alam yang berubah sepenuhnya.
Ujian erupsi lambat laun berubah menjadi peluang ekonomi. Mereka berjuang dalam tantangan perubahan, tidak sedikit milik mereka yang hilang.
Di tahun-tahun awal setelah rarud, warga asli Batur kesulitan mengolah tanaman yang tidak bisa hidup akibat timbunan lava. Mereka juga masih menyaksikan erupsi terus terjadi meski skalanya lebih kecil.
Untuk menghidupi ekonomi keluarga, pekerjaan yang paling menjanjikan saat itu adalah ngalu, berjualan kain. Warga Batur berdagang tidak hanya di Kabupaten Bangli, namun ke seluruh pelosok Bali.
Ngalu lambat laun menjadi tradisi. Masyarakat Bali mengenal pedagang keliling asalnya dari Batur, meski mereka tidak lagi berkeliling dengan dokar seperti dulu.
Dari pasar ke pasar, sektor jasa berkembang. Kecerdasan leluhur Batur berhasil mengembangkan potensi gunung yang meluluhlantahkan desa mereka.
Kini, beragam jasa ditawarkan warga ke wisatawan, misalnya pendakian dan wisata geopark. Ribuan orang setiap hari datang untuk melihat dan menjelajahi bentang alam lava hitam yang dramatis, taman bumi yang menggabungkan keanekaragaman geologi, hayati, dan budaya.
Warga juga bersyukur ternyata proses pelapukan alami pada batuan lava secara bertahap membuat tanah mereka kaya hara dan mineral. Beragam flora tumbuh subur di sana, mulai dari kopi arabika Kintamani, jeruk, hingga hamparan hortikultura yang kini menghidupi ribuan dapur keluarga Batur.
Kecerdasan lainnya dari leluhur adalah memanfaatkan pecahan batu lahar sebagai material bangunan dan arsitektur. Untuk hal ini, warga Batur tidak serakah sebab berkah material mengalir deras hingga ke luar inti Batur sehingga turut dirasakan banyak orang.
Buah dari pengungsian 100 tahun silam itu ternyata tidak berhenti di sana. Bayangkan jika leluhur Batur tidak pindah ke dataran tinggi, maka hari ini coffee shop mewah di sepanjang tebing mungkin tidak bisa menjual secangkir kopi susu dengan harga Rp50 ribu.
Tantangan Moderen
Inisiasi warga mengembangkan pariwisata lewat warung-warung kopi akhirnya mendatangkan tantangan baru, banyaknya pelaku usaha dari luar daerah yang rarud ke Batur.
Kenyataan itu membawa dampak ganda: membuka peluang ekonomi sekaligus memicu dilema pelestarian ruang hidup.
Di satu sisi, hadirnya investasi memberi dampak positif bagi warga lokal. Masyarakat Batur tak hanya menjadi penonton di tanah sendiri, tetapi aktif mengelola beberapa kafe dan usaha pariwisata untuk menopang kebutuhan hidup.
Namun di sisi lain, masuknya pelaku usaha luar termasuk investasi asing membawa tantangan serius terkait tata ruang dan kepemilikan lahan seperti sengketa lahan dan kawasan suci.
Banyak situs penting, pura seperti Pura Pasar Agung Batur dan Pura Jati hingga titik nol Purwa Mandala Desa Adat Batur kini berada di dalam Kawasan Taman Wisata Alam (TWA) yang dikelola negara maupun lahan berstatus hak milik.
Peran desa adat juga terbatas dalam menyaring masuknya investasi. Seringkali usaha atau kerja sama skala besar berjalan tanpa koordinasi dengan masyarakat adat.
“Sampai saat ini mungkin keterlibatan kami ketika ada investasi masuk masih sangat terbatas. Nyaris kami di desa adat tidak mengetahui bahwa ada investasi asing yang masuk di wilayah kami,” kata Penyarikan Desa Adat Batur I Wayan Asta.
Masyarakat Batur menyadari bahwa menjaga lingkungan tanpa kejelasan insentif ekonomi adalah hal yang sulit.
Oleh karena itu, kunci menghadapi tantangan moderen bukanlah penolakan mutlak, melainkan kolaborasi yang adil.
Menjaga nyala
Semangat untuk menjaga kecerdasan dalam menghadapi erupsi dan menemui tantangan investasi ini diikhtiarkan dalam peringatan 100 Tahun Rarud Batur.
Jero Penyarikan Duuran Batur I Ketut Eriadi Ariana mengingatkan bahwa momen 100 tahun ini bukanlah sekadar selebrasi nostalgia apalagi pesta seremonial semata.
Lebih jauh, ini adalah upaya menggedor ingatan kolektif generasi muda agar tidak lupa pada akar ketangguhan leluhurnya.
Rangkaian peringatan mulai dari penataan kembali situs-situs bersejarah, perjumpaan ruang budaya dan olahraga, hingga pawai ekspresi tradisi. Semua itu dirawat bukan untuk memamerkan kemeriahan, melainkan sebagai media refleksi.
Lewat perjumpaan-perjumpaan itu, generasi hari ini diajak membaca kembali bagaimana kebudayaan Batur mampu bertahan dan terus bertumbuh selama seratus tahun bermukim di tebing kaldera.
Peringatan ini menjadi penjelas bahwa kecerdasan lokal Batur tak boleh padam oleh zaman. Jika satu abad lalu ketangguhan Batur diuji oleh dahsyatnya bencana alam, maka Batur hari ini diuji oleh derasnya arus investasi dan modernisasi.
Para leluhur telah memberi teladan bahwa peradaban bertahan bukan karena mengisolasi diri, melainkan soliditas, rasa bakti, serta keluwesan berdiplomasi.
Maka untuk mengarungi abad berikutnya, merawat kecerdasan Batur berarti memadukan keteguhan nilai tradisi dengan kolaborasi moderen yang adil.
Desa Adat Batur terus mendorong hadirnya ruang-ruang dialog yang setara antara warga, pemerintah, dan investor, agar pemanfaatan ruang pariwisata tak pernah mengorbankan kesucian kawasan dan kelestarian lingkungan.
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































