Jakarta (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta mengimbau warga untuk melindungi diri dari paparan abu vulkanik yang dapat memicu batuk, sesak napas, serta memperburuk penyakit pernapasan, seperti asma.
Kepala Dinkes DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, mengatakan abu vulkanik mengandung partikel sangat halus yang dapat mengganggu kesehatan, terutama saluran pernapasan, mata, dan kulit, sehingga warga diimbau untuk melindungi diri dari dampak abu yang terdeteksi mencapai wilayah Jakarta.
"Paparan abu vulkanik dapat memicu batuk, iritasi tenggorokan, sesak napas, serta memperburuk penyakit pernapasan seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK)," kata Ani dalam siaran resmi di Jakarta, Minggu.
Selain saluran pernapasan, paparan abu vulkanik dapat menyebabkan mata perih, merah, dan terasa mengganjal serta menimbulkan gatal atau iritasi pada kulit.
Ani mengimbau warga membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika konsentrasi abu meningkat, serta menutup rapat pintu dan jendela untuk mengurangi masuknya abu ke dalam rumah.
Jika harus beraktivitas di luar, masyarakat dianjurkan menggunakan masker KN95 atau N95 dan kacamata pelindung.
Setelah kembali ke rumah, warga disarankan mandi dan keramas, mengganti pakaian, serta mencuci pakaian yang terpapar abu secara terpisah.
Masyarakat yang membersihkan abu di rumah, kendaraan, atau lingkungan sekitar juga diminta menggunakan masker, kacamata pelindung, sarung tangan, pakaian lengan panjang, dan sepatu tertutup.
Ani mengingatkan warga tidak menyapu abu dalam kondisi kering karena dapat membuat partikel kembali beterbangan dan terhirup.
Menurut dia, abu sebaiknya dibasahi secukupnya sebelum dibersihkan, namun tidak disiram berlebihan karena dapat menggumpal dan menyumbat saluran air.
Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta juga mengingatkan masyarakat, khususnya anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan penyakit pernapasan seperti asma dan PPOK, untuk lebih berhati-hati terhadap paparan abu vulkanik.
Apabila mengalami keluhan seperti sesak napas, batuk yang semakin berat, nyeri dada, atau gangguan penglihatan, masyarakat diimbau segera mencari pertolongan medis di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
"Lindungi diri, lindungi keluarga. Tetap waspada dan utamakan kesehatan selama kondisi abu vulkanik berlangsung," pungkas Ani.
Baca juga: BPBD sebut paparan abu vulkanik di Jakarta tipis dan dapat berubah
Baca juga: Dishub DKI percepat "car free day" antisipasi paparan abu vulkanik
Baca juga: DKI perketat pemantauan kualitas udara imbas sebaran abuvulkanik
Pewarta: Adimas Raditya Fahky P
Editor: Mentari Dwi Gayati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
















































