Jakarta (ANTARA) - Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Satya Widya Yudha menegaskan strategi transisi energi Indonesia tidak menghapus energi fosil sepenuhnya, melainkan melakukan dekarbonisasi fosil.
“Yang paling penting, strategi transisi Indonesia itu tidak phasing out fossil (penghapusan energi fosil secara bertahap), kita adalah dekarbonisasi fosil,” ujar Satya dalam acara "Menjaga Pasokan Batu Bara untuk Kebutuhan Nasional" yang digelar di Jakarta, Selasa.
Satya menyampaikan bahwa Indonesia konsisten dengan sikap tersebut sejak periode kepresidenan Joko Widodo (Jokowi). Pada 2021, kata dia, Boris Johnson yang saat itu menjabat sebagai Perdana Menteri Inggris meminta Indonesia untuk menghapus energi fosil secara bertahap.
Akan tetapi, Satya menyampaikan Jokowi tidak menyampaikan akan menghapus fosil. Jokowi menjawab akan menghitung. Satya menilai langkah tersebut sudah tepat, sebab menjadi bagian dari strategi transisi energi Indonesia, yakni dekarbonisasi fosil.
Adapun langkah dekarbonisasi fosil yang akan ditempuh oleh pemerintah dapat berupa penggunaan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon atau carbon capture and storage (CCS) untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
“Kita memilih dekarbonisasi fosil karena yang kita utamakan di depan adalah energy security (keamanan energi),” ucap Satya.
Ketersediaan pasokan energi menjadi prioritas bagi pemerintah. Sebagai negara dengan sumber daya fosil yang melimpah, menurut Satya strategi dekarbonisasi lebih tepat daripada sepenuhnya menghapus penggunaan energi fosil.
Satya tidak ingin Indonesia terjebak dalam krisis energi ketika melakukan transisi energi dan meninggalkan energi fosil. Ia merujuk pada permasalahan energi yang sempat dialami oleh Inggris.
“Saat Eropa mulai kekurangan gas, Inggris mau kembali ke nuklir. Tapi mengaktifkan nuklir tidak mudah, kembali ke batu bara juga tidak mudah. Akhirnya ada blackout di Inggris Utara. Ini kalau terjadi di Indonesia kan jadi lucu. Maka pilihan kita (dekarbonisasi fosil) tidak salah,” ucap Satya.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah masih akan mempertahankan pemanfaatan batu bara untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) guna menjaga efisiensi energi dan keterjangkauan tarif listrik bagi masyarakat.
Ia juga menilai Indonesia tidak bisa terburu-buru meninggalkan batu bara, terutama ketika sejumlah negara maju justru kembali membuka opsi penggunaan energi fosil tersebut.
Menurut Bahlil, Amerika Serikat maupun sejumlah negara Eropa kini kembali memanfaatkan batu bara untuk menjaga ketahanan energi domestik mereka.
Ia menilai Indonesia perlu mengutamakan efisiensi dan kepentingan nasional dalam menentukan arah transisi energi.
Bahlil menegaskan pemanfaatan batu bara masih diperlukan sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas pasokan dan harga energi nasional.
“Saya putuskan, saya bilang batu bara jalan aja dulu. Ini bicara tentang survival mode. Kita bicara tentang efisiensi. Jangan kita korbankan rakyat kita dengan harga listrik yang besar,” kata dia.
Baca juga: Penguatan tata kelola jadi kunci percepat investasi PLTS 100 GW
Baca juga: Kepala Bappenas: Transisi energi bagian penting bangun masa depan RI
Baca juga: Pengamat: Penggunaan Biosolar B50 upaya transisi energi terbarukan
Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































