China tetap jaga komunikasi dengan presiden sementara Venezuela

11 hours ago 5

Beijing (ANTARA) - Kementerian Luar Negeri China mengatakan tetap menjaga komunikasi dan hubungan dengan pemerintahan sementara Venezuela pasca Amerika Serikat (AS) menangkap Presiden Nicolas Maduro.

"China mementingkan hubungannya dengan Venezuela dan menjaga komunikasi serta kerja sama yang baik dengan pemerintah Venezuela," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing, Jumat (9/1).

Presiden sementara Venezuela Delcy Rodriguez lewat media sosial menyatakan sudah bertemu Duta Besar China untuk Venezuela Lan Hu pada Kamis (8/1).

Rodriguez menyebut ia menghargai sikap tegas dan konsisten China dalam mengutuk keras pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan kedaulatan Venezuela yang merujuk pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan Cilia Flores oleh AS pada 3 Januari 2025.

"Apa pun perubahan politik yang mungkin terjadi di Venezuela, hal itu tidak akan mengubah keinginan China untuk memperdalam kerja sama praktis di berbagai bidang dengan Venezuela dan mempromosikan pembangunan bersama," tambah Mao Ning.​​​​​​​

Mao Ning menyebut China akan terus dengan teguh mendukung Venezuela dalam menegakkan kedaulatan, martabat, keamanan nasional, serta haknya.

Sementara Menteri Luar Negeri Venezuela Yvan Gil mengatakan dalam unggahan Telegram pada Kamis (8/1) bahwa Caracas menegaskan kembali komitmennya untuk memperdalam perjanjian ekonomi dan perdagangan dengan China.

"Venezuela menegaskan kembali komitmennya untuk memperdalam perjanjian perdagangan dan ekonomi dengan Republik Rakyat China," kata Gil.

Ia menekankan bahwa hubungan bilateral tersebut "didukung oleh kerangka hukum internasional dan peraturan kedua negara berdaulat".

Sebelumnya Presiden AS Donald Trump diberitakan meminta Delcy Rodriguez agar pemerintah Venezuela menghentikan kerja sama dengan Rusia, China, Iran, dan Kuba.

Selain itu Venezuela harus bekerja sama secara eksklusif dengan AS dalam produksi minyak dan memberikan preferensi kepada Washington ketika menjual minyak mentah.​​​​​​​

Donald Trump juga mengumumkan bahwa otoritas sementara Venezuela telah menyepakati penyerahan antara 30 hingga 50 juta barel minyak kepada AS.

Padahal berdasarkan data dari perusahaan minyak nasional Venezuela, Petroleos de Venezuela s.a. (PDVSA), negara tersebut mengekspor 952.000 barel per hari pada November 2025, sebelum blokade militer AS yang dimulai pada Desember 2025. Dari jumlah tersebut, 778.000 barel dikirim ke Tiongkok, memberikan Beijing pangsa 81,7 persen dari ekspor minyak Venezuela.

Minyak Venezuela menyumbang sekitar 4 persen dari total impor minyak China yang sebagian besar sumber minyaknya berasal dari Timur Tengah dan Rusia.

Venezuela sendiri terbukti memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, diperkirakan mencapai 303 miliar barel, yang mencakup sekitar 17 persen dari cadangan global.

Menurut American Enterprise Institute, China telah menginvestasikan 2,1 miliar dolar AS untuk industri minyak Venezuela sejak 2016.

Data Morgan Stanley menunjukkan bahwa China National Petroleum Corporation (CNPC) memegang saham dalam konsorsium dengan konsesi yang mencakup 1,6 miliar barel minyak, sementara China Petroleum & Chemical Corporation (Sinopec) memegang saham yang mencakup 2,8 miliar barel.

Selain itu, menurut AidData, sebuah organisasi penelitian yang berbasis di AS, China memberikan pinjaman, utang, dan investasi modal kepada Venezuela sebesar 106 miliar dolar AS antara tahun 2000 dan 2023.

Saat ini, Venezuela diperkirakan memiliki utang sekitar 17-19 miliar dolar AS kepada China dalam bentuk pinjaman yang belum lunas.

Baca juga: Trump: AS akan dapat triliunan dolar dari penjualan minyak Venezuela

Baca juga: Menilik aksi unilateral AS ke Venezuela dan perlunya reformasi PBB

Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |