Beijing (ANTARA) - Pemerintah China dan Inggris menyepakati untuk mempererat kerja sama bidang ekonomi secara jangka panjang dan stabil, termasuk dengan kebijakan bebas visa bagi pemegang paspor Inggris yang ingin memasuki China.
Kesepakatan ini dicapai dalam pertemuan Presiden China Xi Jinping dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer di Balai Besar Rakyat, Beijing, pada Kamis.
“China menyambut baik pemerintah Inggris, parlemen, dan berbagai kalangan daerah di Inggris untuk lebih sering berkunjung ke China guna meningkatkan pemahaman yang komprehensif, objektif, dan tepat tentang China. Kami bersedia secara aktif mempertimbangkan penerapan bebas visa unilateral bagi warga negara Inggris,” kata Xi Jinping, seperti dikutip dalam rilis Kementerian Luar Negeri China.
Kunjungan tiga hari PM Starmer ke Beijing dan Shanghai turut melibatkan 60 delegasi perusahaan, universitas, dan lembaga budaya, termasuk HSBC, Standard Chartered, dan KPMG. Starmer juga bertemu dengan PM Li Qiang dan Ketua Kongres Rakyat Nasional Zhao Leji.
Xi menyebut kerja sama China–Inggris yang "sangat menjanjikan" menjadi capaian nyata yang "benar-benar berbuah hasil", membuka babak baru bagi hubungan dan kerja sama China–Inggris, yang tidak hanya memberi manfaat bagi rakyat kedua negara, tetapi juga bagi dunia.
"Saling percaya merupakan fondasi agar hubungan antarnegara dapat berjalan stabil dan berkelanjutan. China secara konsisten menempuh jalur pembangunan damai, tidak pernah secara aktif memulai perang apa pun, dan tidak pernah merebut sejengkal pun wilayah negara lain," tegas Presiden Xi.
Ia menegaskan saat China berkembang dan menjadi kuat, Tiongkok tidak akan menimbulkan ancaman bagi negara lain karena tradisi budaya China menjunjung prinsip "mengutamakan harmoni" dan mengejar "keselarasan dalam perbedaan".
"Hakikat kerja sama ekonomi dan perdagangan China–Inggris. Kedua negara perlu memperluas kerja sama yang saling menguntungkan di bidang pendidikan, kesehatan, keuangan, dan sektor jasa, serta melakukan penelitian bersama dan transformasi industri di bidang kecerdasan buatan, ilmu pengetahuan, energi baru, dan teknologi rendah karbon, guna mewujudkan pembangunan dan kemakmuran bersama," jelas Presiden Xi.
Presiden Xi berharap Inggris dapat menyediakan lingkungan bisnis yang adil, setara, dan non-diskriminatif bagi perusahaan-perusahaan China termasuk dengan mempermudah mobilitas warga negara masing-masing.
Sedangkan PM Starmer mengatakan bahwa ia sangat senang menjadi perdana menteri Inggris pertama yang mengunjungi China dalam delapan tahun terakhir.
"Di tengah situasi internasional yang penuh gejolak dan rapuh saat ini, sangat penting bagi Inggris dan China untuk membangun kemitraan strategis komprehensif yang jangka panjang dan stabil berdasarkan semangat saling menghormati dan saling percaya. Kebijakan Inggris terkait isu Taiwan yang telah lama dianut tidak berubah dan tidak akan berubah," sebut PM Starmer dalam pernyataan tertulis tersebut.
"Semakin erat pertukaran antarmasyarakat, semakin kondusif bagi peningkatan saling pengertian. Inggris juga bersedia bersama China mendorong lembaga legislatif dan berbagai kalangan lainnya dari kedua negara untuk memperkuat pertukaran" tambah PM Starmer.
Sedangkan soal Hong Kong, disebutkan bahwa kemakmuran dan stabilitas Hong Kong sejalan dengan kepentingan bersama kedua negara dan Inggris menyambut baik peran Hong Kong sebagai jembatan penting dan unik antara Inggris dan China.
Dalam rilis terpisah, Kantor Perdana Menteri Inggris mengatakan Inggris dan China akan meluncurkan kemitraan baru untuk memperluas sektor jasa unggulan Inggris di China dengan tujuan untuk mengembangkan kerja sama lintas pemerintah dan dunia usaha di sektor layanan kesehatan, jasa keuangan dan profesional, jasa hukum, pendidikan, serta pengembangan keterampilan.
Kesepakatan tersebut termasuk dengan memberikan bebas visa bagi warga negara Inggris untuk perjalanan maksimal 30 hari, menjadikan Inggris menikmati fasilitas yang sama dengan 50 negara lain termasuk Prancis, Jerman, Italia, Australia, dan Jepang.
Inggris dan China juga sepakat untuk melakukan studi kelayakan guna mengeksplorasi kemungkinan memasuki negosiasi perjanjian bilateral di bidang jasa. Jika disepakati, hal ini akan menetapkan aturan yang jelas dan mengikat secara hukum bagi perusahaan Inggris yang beroperasi di China.
Kemitraan tersebut akan membantu perusahaan Inggris menemukan mitra di China serta menciptakan jalur untuk membuka pasar China, misalnya dengan mendorong pengakuan terhadap kualifikasi profesional Inggris.
Baca juga: Xi serukan China-Inggris dorong dan praktikkan multilateralisme sejati
Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































