Jakarta (ANTARA) - Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Ristiyanto menekankan bahwa pola intervensi dan pengendalian penyakit pascabencana tidak bisa dilakukan secara seragam karena setiap jenis bencana alam memiliki karakteristik risiko bawaan yang sangat spesifik.
"Jadi untuk intervensi suatu bencana itu tidak satu paket untuk semua. Tapi kita harus melihat faktor risiko utamanya dan apa itu kejadian bencananya," katanya dalam diskusi tentang penyakit menular pascabencana yang digelar secara daring di Jakarta, Kamis.
Ristiyanto memberikan contoh nyata mengenai spesifikasi penanganan pascabencana erupsi gunung berapi yang sangat berbeda dengan bencana akibat hidrometeorologi
"Di sini untuk erupsi di daerah-daerah yang endemis pes khususnya di daerah Jawa Barat, Jawa Timur maupun di Jawa Tengah itu perlu adanya suatu early warning system yang ketat terhadap penyakit pes ini. Karena kalau terjadi suatu outbreak sangat berbahaya bagi masyarakat," lanjut dia.
Baca juga: BRIN peringatkan risiko amplifikasi ekologi dan wabah pascabencana
Untuk menekan laju penyebaran penyakit pes pasca-erupsi gunung berapi, kata Ristiyanto, intervensi utamanya harus difokuskan secara penuh pada pengendalian hama dan populasi tikus yang kerap bermigrasi dari habitatnya yang rusak.
"Nah kalau erupsi, beda lagi. Erupsi Merapi, erupsi Bromo kemarin itu melakukan surveillance dan pengendalian tikus secara intensif. Bahkan dua minggu sekali waktu itu," ujar dia menceritakan pengalaman di lokasi.
Sebaliknya, pada bencana banjir, penanganan utama harus diarahkan pada sanitasi dasar, penyebaran larvasida untuk membunuh jentik nyamuk di genangan, serta pemberantasan sarang nyamuk, terutama di kawasan padat pengungsi.
"Banjir karena kita tahu bahwa banjir itu pasti akan memunculkan genangan. Berarti kemungkinan juga (pemberian) larvasida. Yang pernah saya lakukan di Aceh itu (pemberian) larvasida. Hampir semua genangan air harus dilarvasida," ucap Ristiyanto.
Sementara untuk bencana masif seperti tsunami, Ristiyanto menceritakan pengalamannya bahwa intervensi penyemprotan insektisida ke dalam rumah atau indoor residual spraying (IRS) wajib dilakukan secara menyeluruh dan tidak terbatas hanya di zona inti terdampak.
Dengan adanya perbedaan pendekatan pada tiap jenis bencana, Ristiyanto berharap para pengambil kebijakan dapat segera melakukan studi dinamika penularan secara cepat dan akurat, tanpa perlu menunggu terjadinya lonjakan kasus secara kasatmata.
"Deteksi risiko lebih dini, lakukan intervensi lebih cepat dan tepat sasaran untuk mencegah peningkatan kasus penyakit tular vektor dan reservoir penyakit pascabencana." tutur Ristiyanto.
Baca juga: Tak ambruk saat bencana, BRIN dorong penerapan rumah tahan gempa
Baca juga: Gibran tiba di NTT tinjau penanganan pascagempa
Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































