Jakarta (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan sejumlah teknologi untuk menghadapi dampak fenomena El Nino, mulai dari modifikasi cuaca, desalinasi air laut, hingga pengolahan air menjadi air siap minum guna memperkuat ketahanan air nasional.
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan pengembangan teknologi tersebut menjadi salah satu perhatian Presiden Prabowo Subianto saat membahas kesiapan menghadapi El Nino.
"Minggu lalu saya diundang oleh Bapak Presiden untuk menyampaikan teknologi-teknologi apa yang dimiliki oleh BRIN untuk mengatasi El Nino. Pada prinsipnya El Nino tahun ini panjang lamanya relatif sama, namun saja lebih panas dan lebih kering," kata Arif di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis.
Baca juga: BRIN perkuat kajian sungai bawah tanah di Kebumen untuk ketahanan air
Arif menyampaikan Presiden Prabowo menugaskan BRIN menyempurnakan teknologi modifikasi cuaca melalui sejumlah pendekatan, di antaranya penggunaan natrium klorida (NaCl) berukuran 2-5 mikron, teknologi flare, serta pemanfaatan pesawat nirawak (drone) untuk meningkatkan efektivitas operasi modifikasi cuaca.
Selain itu, BRIN juga mengembangkan teknologi desalinasi air laut yang saat ini telah diterapkan di 40 wilayah pesisir.
"Kemudian yang kedua tadi Bapak Presiden juga sangat senang dengan terobosan BRIN adanya teknologi desalinasi laut yang saat ini sudah diterapkan di 40 wilayah pesisir," ujarnya.
Arif mengatakan BRIN juga mengembangkan teknologi Arsinum yang mampu mengolah air banjir, air limbah, dan air payau menjadi air siap minum. Teknologi tersebut telah diterapkan di sejumlah lokasi bencana dan sempat diperagakan di hadapan Presiden.
Arif mengatakan Presiden bahkan mencoba langsung air hasil olahan teknologi Arsinum bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia serta Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono.
Baca juga: BRIN pastikan data satelit Lampung-1 di bawah otoritas Indonesia
"Arsinum itu air banjir, air limbah, air payau bisa menjadi air siap minum. Tadi Bapak Presiden juga mencoba, Bapak Presiden langsung minum air tersebut. Pak Menteri Bahlil juga minum, Menteri KKP juga minum, dan itu sudah kita buktikan di berbagai lokasi bencana," katanya.
Selain pengolahan air, ia melanjutkan, Presiden Prabowo juga meminta BRIN mengidentifikasi potensi sungai bawah tanah sebagai sumber air baku.
Arif mengatakan BRIN tengah mengembangkan teknologi untuk memetakan aliran sungai bawah tanah sekaligus mengolah air yang masih mengandung bakteri Escherichia coli (E. coli).
Sebagai bagian dari upaya tersebut, BRIN akan membangun living laboratory di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, untuk mengembangkan teknologi pengolahan air bawah tanah agar lebih bersih, aman, dan higienis. Kajian serupa juga dilakukan di Gunungkidul dan sejumlah daerah lain yang memiliki potensi sungai bawah tanah.
"Nah sekarang kami sedang kaji untuk men-track di berbagai wilayah karena di Lombok sudah ada, di Gunung Kidul juga sudah ada, dan sekarang apa yang dilakukan oleh masyarakat itu bagaimana kita bisa dampingi aspek teknologinya," ujarnya.
Baca juga: Prabowo dorong BRIN perkuat riset untuk kemandirian nasional
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan El Nino telah mencapai kategori kuat dan masih berpotensi meningkat menjadi sangat kuat sehingga berisiko memicu musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang di sejumlah wilayah Indonesia.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani pada Selasa (4/8) mengatakan hasil pemantauan BMKG menunjukkan El Nino memiliki indeks ENSO sebesar +1,59 yang menempatkannya pada kategori kuat.
Menurut BMKG, curah hujan pada Agustus hingga September 2026 diperkirakan berada pada kategori rendah hingga sangat rendah sebelum musim hujan mulai datang pada pertengahan Oktober 2026.
Dampak fenomena tersebut terutama dirasakan di wilayah selatan garis khatulistiwa, seperti Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Jawa, Sumatera bagian selatan, dan Papua bagian selatan.
BMKG juga mengingatkan El Nino berpotensi mempengaruhi berbagai sektor, antara lain pertanian, penyediaan air bersih, pengelolaan waduk dan irigasi, kebakaran hutan dan lahan, energi, kesehatan, perikanan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
Baca juga: Di hadapan 150 peneliti BRIN Prabowo janji tambah anggaran riset
Pewarta: Fathur Rochman
Editor: Fitri Supratiwi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































