Yogyakarta (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul memetakan potensi kekeringan di wilayah setempat sebagai bagian dari upaya mitigasi dan kesiapsiagaan saat memasuki musim kemarau.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Purwono di Gunungkidul, Kamis, mengatakan tren kekeringan di wilayah itu biasanya dimulai dari kawasan selatan karena kontur tanahnya kurang mampu menahan air.
Tren tersebut, kata dia, didasarkan pada pengamatan terhadap kejadian kekeringan pada tahun-tahun sebelumnya yang banyak diawali dari wilayah Kapanewon Girisubo, Tepus, Tanjungsari, Panggang, Purwosari, dan Saptosari yang didominasi tanah kapur.
"Karakteristik tanah di sana dominan tanah kapur sehingga sangat mudah kering, artinya tidak mampu menyimpan air di permukaan tanah," kata Purwono.
Menurut dia, air tanah di wilayah tersebut berada pada kedalaman sekitar 80 hingga 100 meter di bawah permukaan tanah, sehingga kawasan selatan menjadi wilayah yang lebih dahulu menerima bantuan penyaluran air bersih dari BPBD.
"Penyaluran air kami awalnya dari selatan, kemudian nanti makin mundur ke belakang merembet ke arah utara, seperti itu pemetaannya," katanya.
Ia mengatakan dampak kekeringan juga dapat mengganggu produktivitas pertanian di lahan-lahan sekitar. Namun demikian, Purwono menilai para petani di wilayah tersebut telah memiliki cara mitigasi tersendiri dalam menghadapi kekeringan yang hampir selalu terjadi setiap tahun.
Ia menilai masyarakat sudah bertahun-tahun menyatu dengan alam. Salah satu bentuk mitigasi yang dilakukan petani adalah menanam tanaman yang lebih tahan terhadap minimnya ketersediaan air pada musim kemarau, seperti umbi-umbian dan ketela.
Purwono menambahkan bahwa kondisi alam di wilayah tersebut memang lebih cocok untuk tanaman keras seperti ketela. Selain itu, masyarakat di daerah tersebut juga telah menyesuaikan musim panen ketela dengan kondisi cuaca.
Langkah ini dilakukan oleh para petani setempat untuk memaksimalkan proses pengeringan hasil panen mereka.
"Sehingga ketika terik matahari baik, kualitas gaplek akan baik," kata Purwono.
Pewarta: Agung Dwi Prakoso
Editor: Wuryanti Puspitasari
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































