BI rate 5,5 persen, pelajaran tentang menjaga kepercayaan ekonomi

1 week ago 13
Maka, keputusan BI Rate 5,5 persen mengajarkan satu hal yang sering terlupakan dalam diskusi ekonomi: Nilai tukar rupiah bukan sekadar angka yang muncul di layar perdagangan valuta asing.

Jakarta (ANTARA) - Sektor ekonomi suatu negara selalu bergerak dinamis, yang kerap mengharuskan pemerintah dan otoritas moneter menempuh kebijakan yang tidak populer.

Keputusan yang diambil mungkin tidak disukai masyarakat, dunia usaha, bahkan pasar sekalipun. Namun justru pada saat-saat seperti itulah kualitas tata kelola ekonomi diuji. Bukan ketika situasi sedang tenang, melainkan ketika tekanan datang dari berbagai arah secara bersamaan.

Keputusan Bank Indonesia pada 9 Juni 2026 untuk kembali menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,5 persen merupakan salah satu contoh kebijakan yang lahir dari situasi semacam itu.

Dalam waktu tiga bulan, BI Rate telah naik sebanyak 75 basis poin. Dari posisi 4,75 persen pada awal tahun, naik menjadi 5,25 persen pada Mei, lalu kembali meningkat menjadi 5,5 persen pada Juni.

Langkah tersebut tidak diambil secara tiba-tiba, melainkan melalui pertimbangan yang panjang. Rupiah masih bergerak di atas level Rp18.000 per dolar AS, sementara cadangan devisa Indonesia pada Mei 2026 turun menjadi 144,9 miliar dolar AS, menyusut hampir 3 miliar dolar AS dibandingkan bulan sebelumnya.

Pada saat yang sama, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengakui bahwa pergerakan nilai tukar rupiah lebih lemah daripada yang sebelumnya diperkirakan.

Pernyataan itu penting karena menunjukkan bahwa tekanan yang dihadapi perekonomian nasional tidak sepenuhnya sesuai dengan proyeksi awal.

Dalam kondisi seperti itu, bank sentral harus bertindak cepat untuk menjaga stabilitas. Salah satu instrumen yang paling langsung tersedia adalah menaikkan suku bunga.

Secara teori, kenaikan suku bunga memang memiliki tujuan yang jelas. Ketika imbal hasil aset keuangan dalam rupiah meningkat, modal asing memiliki insentif lebih besar untuk masuk atau bertahan di dalam negeri.

Saat ini, instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia dengan tenor 12 bulan menawarkan tingkat imbal hasil di atas 6,5 persen, angka yang cukup kompetitif dibandingkan sejumlah negara berkembang lainnya.

Namun setiap kebijakan ekonomi selalu memiliki konsekuensi. Tidak ada makan siang gratis dalam ilmu ekonomi. Ketika suku bunga naik untuk memperkuat daya tarik aset keuangan, biaya pinjaman bagi masyarakat dan dunia usaha juga ikut meningkat.

Bagi rumah tangga yang memiliki kredit pemilikan rumah dengan bunga mengambang, kenaikan suku bunga berarti cicilan yang lebih besar pada bulan-bulan berikutnya.

Bagi pengusaha UMKM yang mengandalkan kredit modal kerja, biaya operasional bertambah ketika margin usaha justru sedang menghadapi tekanan.

Dunia usaha yang sebelumnya berencana melakukan ekspansi juga cenderung lebih berhati-hati karena biaya pembiayaan menjadi lebih mahal.

Di sinilah dilema kebijakan muncul. Stabilitas nilai tukar memang penting, tetapi upaya menjaga stabilitas tersebut berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Baca juga: BI-Rate naik di RDG Mingguan sebab pelemahan rupiah lewati proyeksi

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |