Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) menginginkan Asian Development Bank (ADB) turut menjadi mitra strategis dalam perencanaan pembangunan.
“Kami ingin ADB tidak hanya menjadi lembaga pembiayaan, tetapi juga mitra strategis dalam perencanaan pembangunan. Akan sangat baik jika ADB dapat bekerja bersama kami dalam merancang perencanaan di tengah ketidakpastian, bukan hanya membiayai dalam situasi yang sudah pasti,” kata Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard saat bertemu perwakilan ADB di Gedung Bappenas.
Dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Kamis, Febrian mengatakan pada pertemuan itu Bappenas dan ADB memperkuat kemitraan kemitraan strategis dalam perencanaan dan pembiayaan pembangunan, sekaligus mendorong peningkatan kesiapan proyek, penguatan kapasitas kelembagaan, serta percepatan implementasi di tingkat kementerian teknis.
Febrian menegaskan bahwa proyek-proyek pembangunan yang didukung mitra internasional harus berjalan secara efektif, tepat waktu, dan memberikan dampak jangka panjang.
“Persoalan utamanya bukan pada kinerja ADB, melainkan pada kebutuhan kementerian teknis kita untuk memperkuat fondasi dan kapasitas pelaksanaan. Tentu, beban utamanya ada pada kita, dan kita harus memastikan bahwa proyek-proyek ini benar-benar dikembangkan dan dijalankan,” ujar dia.
Wamen PPN juga menekankan urgensi tata kelola proyek yang disiplin dan berorientasi hasil. Selain itu, evaluasi berkala diperlukan untuk memastikan efektivitas alokasi sumber daya.
Deputi Bidang Pembiayaan dan Investasi Pembangunan Kementerian PPN/Bappenas Putut Hari Satyaka turut memaparkan kondisi terkini portofolio kerja sama Indonesia dengan ADB. Dirinya menyampaikan ADB merupakan salah satu mitra pembangunan terpenting bagi Indonesia.
“ADB tetap menjadi salah satu mitra pembangunan terpenting bagi Indonesia. Saat ini, kami memiliki 12 proyek aktif bersama ADB, di mana sebagian berjalan sesuai rencana, sementara sebagian lainnya mengalami keterlambatan atau menghadapi risiko. Kami percaya bahwa kolaborasi yang lebih erat sangat diperlukan untuk mengatasi tantangan tersebut,” ujar Putut.
Bappenas telah meluncurkan Green Book 2025–2029 yang mencakup 113 proyek dengan kebutuhan pinjaman sekitar 28,4 miliar dolar AS. Selanjutnya, Green Book 2026 akan diluncurkan pada April mendatang, dengan penekanan pada penguatan koordinasi sejak tahap awal.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Presiden ADB Scott Morris mengatakan mereka semakin menaruh perhatian pada kualitas implementasi. “Tidak hanya pada tahap persiapan, tetapi menyoroti transformasi pendekatan pembiayaan ADB yang kini semakin beragam".
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































