Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) dan Chinese Society of Environmental Sciences (CSES) bekerja sama dalam pengembangan industri kelapa sawit rendah emisi dan berkelanjutan
"Kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam mendorong transformasi industri sawit nasional sejalan dengan agenda pembangunan hijau dan target penurunan emisi," kata Sekretaris Kementerian PPN/Sekretaris Utama Bappenas Teni Widuriyanti saat penandatanganan nota kesepahaman di Gedung Bappenas, Jakarta, sebagaimana dikutip dari keterangan resminya di Jakarta, Kamis.
Lebih lanjut, kerja sama tersebut mencakup pengembangan teknologi rendah emisi, lalu penyusunan metodologi perhitungan emisi karbon untuk mendukung perdagangan karbon. Kemudian, juga penguatan kapasitas dan kesejahteraan petani sawit melalui pembentukan koperasi petani serta pelatihan dan pertukaran pengetahuan agar pengolahan sawit dilakukan secara lebih ramah lingkungan dan bernilai tambah.
Petani sawit ditempatkan sebagai aktor penting dalam transformasi industri sawit nasional.
Melalui penguatan kapasitas dan pengembangan koperasi, petani diharapkan dapat terlibat langsung dalam mekanisme perdagangan karbon dan memperoleh manfaat ekonomi yang berkelanjutan.
Pihaknya mengharapkan kolaborasi dengan CSES dapat menjadi model pengembangan industri sawit rendah emisi yang inklusif, berdaya saing, dan relevan secara global.
Selain itu, kerja sama ini diarahkan untuk memperkuat transformasi industri kelapa sawit melalui penerapan teknologi rendah emisi dan pemanfaatan mekanisme pembiayaan pembangunan yang inovatif.
Salah satu aspek utama dari kemitraan ini adalah pengembangan dan penerapan teknologi inovatif rendah emisi, atau yang disebut sebagai PaMER (Pabrik Minyak Sawit Emisi Rendah).
"Teknologi ini tidak hanya menghasilkan minyak pangan bernutrisi tinggi dan produk lain yang ramah lingkungan, tetapi juga memiliki potensi untuk menurunkan emisi karbon sebesar 79,19 persen dibandingkan dengan teknologi konvensional," ujar Sesmen.
Penerapan teknologi PaMER diharapkan dapat meningkatkan daya saing industri sawit nasional sekaligus membuka peluang pembiayaan pembangunan inovatif melalui mekanisme perdagangan karbon.
Kajian bersama akan dilakukan untuk menyusun kerangka perdagangan karbon yang komprehensif dan aplikatif bagi sektor kelapa sawit.
Wakil Presiden dan Sekretaris Jenderal CSES Xia Zuyi menyatakan kerja sama ini memiliki nilai inovasi dan percontohan yang penting dalam konteks transisi hijau global.
"Kerja sama ini berfokus pada pengembangan industri kelapa sawit rendah emisi dan ramah lingkungan, serta mengeksplorasi integrasi mekanisme perdagangan karbon dengan pengembangan industri dan peningkatan kesejahteraan petani. Inisiatif ini memiliki nilai inovasi dan percontohan yang penting," ungkap Zuyi.
Staf Ahli Menteri PPN Bidang Inovasi Pendanaan Pembangunan Siliwanti menambahkan bahwa kemitraan ini mempertemukan kepentingan ekonomi dan lingkungan secara seimbang.
"Kemitraan ini membentuk kerangka kerja sama yang komprehensif, yang merepresentasikan pertemuan antara kepentingan ekonomi dan lingkungan. Kerja sama ini memberikan arah yang jelas bagi kedua negara untuk mencapai target iklim secara saling menguntungkan," ucapnya.
Baca juga: Bappenas ingin ADB jadi mitra dalam perencanaan pembangunan
Baca juga: BRIN dan Bappenas kolaborasi untuk Satu Data Indonesia
Baca juga: Bappenas optimis kakao dapat tingkatkan kesejahteraan petani
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































