Tanjungpinang (ANTARA) - Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Hafidz Muksin menekankan pentingnya revitalisasi bahasa daerah, khususnya Bahasa Melayu, bagi kalangan anak-anak di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) agar tidak punah dimakan zaman.
Menurutnya, Badan Bahasa melalui Kantor Bahasa Provinsi Kepri telah bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat guna merevitalisasi Bahasa Melayu yang ditujukan kepada anak-anak SD hingga SMP.
"Upaya yang kita lakukan ialah bagaimana anak-anak mengenal, membiasakan serta menguasai bahasa daerah, misalnya melalui lomba bernyanyi, syair, puisi, berpantun hingga menulis cerpen dengan bahasa Melayu," kata Hafidz Muksin di Tanjungpinang, Kepri, Kamis.
Baca juga: Badan Bahasa: Perlu ada susunan bunga rampai sejarah Bahasa Indonesia
Upaya seperti itu, menurutnya, penting dilakukan karena kondisi masyarakat di Kepri yang heterogen, berdampak pada penggunaan Bahasa Melayu yang sudah mulai dilupakan dalam percakapan sehari-hari.
Bahkan Muksin sempat bertanya dengan sejumlah pelajar SD di Tanjungpinang terkait penguasaan Bahasa Melayu. Dari sekian banyak pelajar yang ditanya, hanya satu orang bisa berbahasa Melayu, karena sebagian besar lainnya sudah menggunakan Bahasa Indonesia.
Karena itu ia turut mendorong peran keluarga atau orang tua dapat menumbuhkan sikap positif terhadap penggunaan bahasa daerah, agar budaya, adat, dan karakter masyarakat Melayu yang tumbuh melalui bahasa dapat terus dilestarikan.
"Terlebih lagi di Kepri terdapat karya-karya sastra seperti gurindam, syair, dan pantun, yang sarat makna dan nilai-nilai nasehat serta karakter masyarakat," ujarnya.
Baca juga: Kantor Bahasa Kepri sebut penggunaan bahasa Melayu masih terjaga
Hafidz Muksin menyampaikan pelestarian Bahasa Melayu jadi fokus Kantor Bahasa bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri melalui penandatanganan kesepakatan kerja sama (MoU) tentang pembinaan dan pemartabatan Bahasa Indonesia di lingkungan publik dan dinas, serta perlindungan Bahasa Melayu.
Badan Bahasa pun terus berupaya menanggulangi supaya bahasa daerah tidak punah, mengingat sudah banyak bahasa daerah yang punah, lalu terancam punah, dan kritis.
"Meskipun Bahasa Melayu tergolong aman, namun tingkat penggunaannya mulai turun, terutama anak-anak. Kondisi ini harus menjadi perhatian serius kita bersama," ucap Haficz Muksin.
Baca juga: Majelis Adat Melayu RI-Malaysia sepakat perkuat pemajuan Budaya Melayu
Pewarta: Ogen
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































