Jakarta (ANTARA) - Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) mencermati bahwa penutupan Selat Hormuz sebagai koridor energi paling vital dunia, dapat memicu kenaikan biaya logistik global hingga 30 persen.
“Kalau konflik berkepanjangan, biaya logistik global bisa mengalami kenaikan signifikan secara kumulatif, kemungkinan lebih dari 30 persen total biaya dibandingkan periode sebelum konflik, tergantung durasi, rute pengalihan dan harga energi,” kata Sekretaris Jenderal ALFI Trismawan Sanjaya saat dihubungi di Jakarta, Selasa.
Trismawan mengatakan banyak faktor yang mempengaruhi potensi kenaikan biaya logistik global tersebut.
Pertama, harga minyak dunia sudah meningkat signifikan sekitar 8 hingga 13 persen setelah konflik baru-baru ini.
Lebih lanjut, eskalasi konflik telah membuat banyak jalur pelayaran utama termasuk Selat Hormuz sangat riskan atau ditutup, sehingga banyak kapal harus berputar melalui rute lain seperti Cape of Good Hope.
Baca juga: Asosiasi logistik soroti pentingnya kedaulatan dalam peran Bea Cukai
Baca juga: Menhub tekankan peran ALFI penting mewujudkan zero ODOL 2027
Langkah ini menambah waktu transit kurang lebih 15–20 hari dan otomatis membuat biaya operasional kapal ikut naik.
“Selain itu, biaya asuransi kargo dan war risk surcharge meningkat tajam, dengan beberapa analis memperkirakan freight,” ujar Trismawan.
Sebelumnya, media Iran pada Sabtu (28/2) melaporkan bahwa Selat Hormuz telah “secara efektif” ditutup menyusul serangan AS-Israel, meski belum ada pengumuman resmi mengenai blokade formal.
Adapun Selat Hormuz menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dunia serta volume besar ekspor gas alam cair dari Qatar dan Uni Emirat Arab.
Sekitar 20 persen konsumsi minyak harian global, atau sekitar 20 juta barel, melintasi koridor tersebut.
Data pelayaran menunjukkan volume transit pada 1 Maret turun 86 persen dibandingkan rata-rata tahun 2026.
United Kingdom Maritime Trade Operations melaporkan sejumlah insiden maritim yang digambarkan sebagai serangan pada Minggu.
Hanya Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang memiliki jaringan pipa yang dapat menghindari Selat Hormuz, namun kapasitasnya hanya mencakup sebagian kecil dari volume minyak mentah yang biasanya dikirim melalui jalur tersebut.
Baca juga: ALFI apresiasi BBM Pertamina mudah diakses di berbagai wilayah
Baca juga: Ekonom soroti peran teknologi dalam pembangunan infrastruktur logistik
Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































