Gorontalo (ANTARA) - Dahulu, suara langkah warga Desa Cempaka Putih, Kecamatan Tolinggula, Kabupaten Gorontalo Utara, menuju hutan menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari.
Kayu dan rotan diambil untuk memenuhi kebutuhan. Bagi sebagian besar masyarakat, hutan bukan sekadar bentang alam di sekitar desa, melainkan tempat menggantungkan hidup.
Namun, bagi Ading Suhana, keadaan itu tidak bisa dibiarkan berlangsung selamanya.
Bukan karena ia ingin memisahkan masyarakat dari hutan, melainkan karena ia menyadari satu hal sederhana: suatu hari hutan bisa habis, sementara anak cucu mereka belum tentu memiliki sumber penghidupan lain.
Dari kegelisahan itulah, pada 2017, sebuah gerakan kecil dimulai.
Ading mengajak masyarakat menanam durian varietas montong. Sekitar 4.000 bibit menjadi awal dari sebuah perubahan yang kelak tidak hanya mengubah lahan, tetapi juga cara masyarakat Desa Cempaka Putih, memandang masa depan.
Awal Perubahan
Ketika gagasan itu muncul, sekitar 70 persen masyarakat Desa Cempaka Putih masih menggantungkan penghidupan dari hasil hutan. Kayu dan rotan menjadi sumber pendapatan yang sulit ditinggalkan karena telah menyatu dengan keseharian warga.
Ading, yang ketika itu masih menjadi aparat desa, melihat persoalan tersebut dari dua sisi.
Di satu sisi, aktivitas itu mengancam keberlanjutan hutan. Namun, di sisi lain, masyarakat memang membutuhkan penghasilan.
Bibit durian montong yang ditanam Ading Suhana beberapa tahun lalu menjadi bagian dari gerakan berkebun untuk menjaga hutan sekaligus membangun ekonomi mandiri bagi warga desa. (ANTARA/Faradila Alim)Karena itu, menurut Ading, masyarakat tidak cukup hanya diajak berhenti mengambil hasil hutan. Mereka harus memiliki pilihan lain yang bisa menggantikan sumber penghidupan tersebut.
“Saya dan teman-teman berpikir, kalau keadaan ini dipertahankan, di samping hutan akan habis, kami juga tidak ada tabungan untuk masa depan anak cucu,” ujar Ading.
Ketika dana desa mulai tersedia, ia menyampaikan gagasannya kepada kepala desa. Ia meminta anggaran digunakan untuk membeli sekitar 4.000 bibit durian.
Tidak semua orang langsung percaya.
Sebagian masyarakat meragukan durian dapat tumbuh dan menghasilkan di wilayah mereka. Namun, keraguan itu justru menjadi alasan bagi Ading untuk membuktikan bahwa gagasannya bukan sekadar angan-angan.
Bibit ditanam. Pohon-pohon dirawat. Waktu kemudian menjadi bagian penting dari percobaan tersebut.
Baca juga: Gorontalo Utara berpeluang ekspor langsung durian ke China
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































