Jakarta (ANTARA) - Sedikitnya 222 perusahaan di Jepang pernah membayar pelaku ransomware, namun sekitar 60 persen di antaranya tetap gagal memulihkan data mereka, menurut survei terbaru.
Laman Kyodo pada Senin (20/4) waktu setempat melaporkan bahwa dari 1.107 perusahaan yang merespons survei pada Januari oleh Japan Institute for Promotion of Digital Economy and Community, sebanyak 507 melaporkan pernah terkena serangan ransomware, yakni peretasan yang mengunci akses data dan meminta tebusan untuk pemulihan.
Dari perusahaan yang membayar tebusan, 83 berhasil memulihkan sistem dan data, sementara 139 lainnya tidak berhasil. Sebaliknya, 141 perusahaan melaporkan mampu memulihkan sistem dan data tanpa membayar tebusan meski sempat terkena serangan.
Baca juga: AT&T dilaporkan bayar peretas untuk hapus data pelanggan yang dicuri
Baca juga: Pakar sebut wujudkan Jakarta sebagai kota pintar butuh data yang aman
Para ahli menyatakan tebusan sebaiknya tidak dibayar karena dapat mendanai organisasi kriminal. Lembaga tersebut juga menekankan bahwa hasil survei ini menunjukkan kenyataan bahwa pembayaran tebusan tidak menjamin pemulihan data.
Sekitar setengah dari perusahaan yang terdampak melaporkan kerugian finansial, termasuk pembayaran tebusan dan biaya pemulihan sistem, berkisar antara 1 juta yen (sekitar Rp108 juta) hingga di bawah 50 juta yen (Rp54 miliar).
Sementara itu, 16 persen mengaku mengalami kerugian kecil atau tidak ada kerugian, dan 4,3 persen lainnya mengalami kerugian hingga 1 miliar yen (Rp108 miliar) atau lebih.
Survei juga menunjukkan bahwa proses pemulihan umumnya memakan waktu antara satu minggu hingga satu bulan, sebagaimana dilaporkan oleh 176 perusahaan terdampak. Namun, sebagian perusahaan menyebut data mereka belum pulih bahkan setelah tiga bulan.
Yukimi Sota dari anak usaha Jepang milik perusahaan keamanan siber AS Proofpoint merekomendasikan agar perangkat lunak keamanan selalu diperbarui serta pentingnya melakukan pencadangan data secara rutin untuk meminimalkan dampak serangan.
Baca juga: Remaja di Jepang diduga lakukan serangan siber berkat bantuan AI
Baca juga: Stellantis alami kebocoran data pelanggan akibat peretasan
Baca juga: Perusahaan pemilik merek fesyen mewah hadapi peretasan data
Penerjemah: Fathur Rochman
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































