Warga waspadai sungai yang melebar pascabencana banjir di Aceh Timur

3 hours ago 1

Aceh Timur, Aceh (ANTARA) - Warga penyintas bencana banjir bandang yang berlokasi di Dusun Ranto Panyang Rubek, Aceh Timur, Aceh, mewaspadai sungai yang melebar hingga 30 meter dan ​​berarus deras pascabencana tersebut.

“Pinggiran ini sudah lebar. Biasanya juga nggak ada gelombang-gelombang ini, sekarang kami kayak jadi takut juga. Lebarnya nambah kira-kira 30 meter sudah ini. Dari 100 meter,” ujar Ridwan (40), seorang warga penyintas bencana banjir tersebut.

Dia mengatakan hal itu saat mengoperasikan perahu rakit di Dusun Ranto Panyang Rubek, Desa Sijudo, Pante Bidari, Aceh Timur, Aceh, Sabtu.

Ridwan menyampaikan bahwa arus Sungai Arakundo menjadi lebih deras pascabencana banjir. Berdasarkan pantauan ANTARA, derasnya arus sungai juga kian mengikis tepian sungai yang menjadi tempat kapal rakit yang dioperasikan oleh Ridwan bersandar.

Baca juga: Huntara untuk dusun terisolir di Aceh Timur terhambat akses

Sejumlah warga terdampak bencana alam menaiki rakit untuk menyeberangi Sungai Arakundo di Dusun Ranto Panyang Rubek, Desa Sijudo, Pante Bidari, Aceh Timur, Aceh, Sabtu (21/2/2026). Akses jembatan apung di Sungai Arakundo yang menghubungkan antara Kabupaten Aceh Timur dengan Kabupaten Aceh Utara hanyut terbawa banjir bandang pada November 2025 dan hingga kini warga setempat masih memanfaatkan rakit sebagai sarana penyeberangan. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/rwa.

Jasa penyeberangan sungai Ridwan menghubungkan Kabupaten Aceh Timur dengan Kabupaten Aceh Utara. Warga acapkali menggunakan jasanya untuk bekerja, baik untuk membawa hasil kebun, berjualan kosmetik di kabupaten seberang hingga guru mengajar.

“Paling banyak bisa angkut lima-delapan kereta (sepeda motor). Biasanya ramai dekat-dekat Lebaran,” kata Ridwan.

Terkait dengan tarif, Ridwan menyampaikan tak menetapkan tarif akan jasanya. Warga bisa membayarnya berapapun, bahkan Ridwan memberi kelonggaran bagi warga yang mengantar orang sakit.

“Kadang ada yang kasih Rp5 ribu, kadang ada yang Rp10 ribu. Tadi ada yang kasih Rp3 ribu. Saya nggak patok (harga). Orang sakit itu saya nggak minta, sebab harus lewat terus," katanya.

Baca juga: Bupati Aceh Timur: Kayu sisa banjir untuk bangun fasilitas publik

Sejumlah warga terdampak bencana alam menaiki rakit untuk menyeberangi Sungai Arakundo di Dusun Ranto Panyang Rubek, Desa Sijudo, Pante Bidari, Aceh Timur, Aceh, Sabtu (21/2/2026). Akses jembatan apung di Sungai Arakundo yang menghubungkan antara Kabupaten Aceh Timur dengan Kabupaten Aceh Utara hanyut terbawa banjir bandang pada November 2025 dan hingga kini warga setempat masih memanfaatkan rakit sebagai sarana penyeberangan. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/rwa.

Seorang warga yang bernama Tokli juga menyampaikan hal serupa. Tokli merupakan pengguna jasa Ridwan untuk menyeberangi sungai.

Ia menyampaikan, dulunya terdapat jembatan apung di Sungai Arakundo. Namun jembatan apung itu sudah terputus dan belum ada tanda-tanda akan dibangun kembali.

Sejak saat itu, Tokli rutin menggunakan jasa Ridwan untuk menyeberangi sungai.

Meskipun arus semakin deras, Tokli menyampaikan perahu rakit yang ia tumpangi cukup stabil. "Tetapi kalau ada jembatan kan enak, bisa mondar-mandir. Saat ini terbatas,” katanya.

Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Sri Muryono
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |