Warga Sinjai, Sulsel gunakan energi biogas dari program PLN Peduli

2 hours ago 2

Makassar (ANTARA) - Sejumlah masyarakat yang berada di Dusun Bakae, Desa Saukang, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan mulai memanfaatkan energi biogas sebagai kebutuhan sehari-hari yang sumbernya dari Program PLN Peduli.

Program Biogas Kampung Energi Terpadu yang berada di Dusun Bakae merupakan bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN UID Sulselrabar yang menghadirkan biodigester berkapasitas 12 meter kubik di wilayah tersebut.

Salah satu warga yang telah memanfaatkan energi biogas yakni Hasriani yang melalui keterangannya di Makassar, Kamis mengaku telah merasakan begitu besar manfaat dari energi terbarukan tersebut.

"Alhamdulillah, dengan biogas kami tidak mengeluarkan biaya sama sekali. Dana yang tadinya dipakai untuk membeli tabung gas dapat digunakan untuk kebutuhan sekolah anak dan kebutuhan rumah sehari-hari,” ujar Hasriani.

Bagi Hasriani, biogas merupakan solusi yang sangat nyata untuk kebutuhan sehari-hari yang meringankan beban ekonominya. Sebelum adanya biogas, Hasriani mengatakan bahwa ia menghabiskan sekitar empat tabung gas atau sejumlah Rp72.000 per bulan untuk kebutuhan memasak sehari-hari di rumah.

Selain menghemat pengeluaran, kompor biogas ini dinilai lebih aman. Biogas bekerja pada tekanan rendah tanpa tabung, sehingga risikonya jauh lebih kecil dibandingkan tabung gas.

“Kalau pakai tabung gas, selalu ada rasa khawatir takut bocor atau meledak. Tapi sekarang dengan biogas, saya lebih tenang dan merasa aman saat memasak untuk keluarga,” tambahnya.

Hasriani mengakui bahwa energi biogas yang diperoleh dari kandang sapi di dusun tempatnya tinggal kini lahir energi baru yang menyalakan dapur, mengurangi beban ekonomi keluarga, menghadirkan rasa aman, dan menumbuhkan harapan.

Alhasil, melalui biogas, kini warga melangkah mantap menuju masa depan yang lebih mandiri, bersih, dan berkelanjutan.

Manfaat biogas ke depan tidak hanya berhenti di dapur. Residu hasil pengolahan kotoran sapi berpotensi dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk pertanian.

Pemanfaatan ini diharapkan dapat membantu meningkatkan kesuburan tanah, menekan biaya pupuk kimia, serta mendukung pertanian yang lebih ramah lingkungan. Selain itu, residu biogas juga berpeluang dikembangkan sebagai bahan pakan ternak, seperti ikan dan ayam, sehingga menciptakan siklus pemanfaatan yang saling menguatkan antara energi, pertanian, dan peternakan.

Yang membuat program ini semakin bermakna adalah keberadaan sapi-sapi yang menjadi sumber biogas berasal dari sapi milik warga penerima manfaat sendiri.

Dengan kata lain, pengelolaan energi ini benar-benar berbasis komunitas, dari warga, dikelola bersama warga, dan kembali memberi manfaat bagi warga. Limbah ternak yang dulu tidak memiliki nilai, kini terdapat keberkahan di dalamnya.

Ke depan, harapan juga bertumbuh. Jika pengelolaan biodigester terus berkembang, tidak mustahil jumlah rumah tangga penerima manfaat juga akan bertambah, demikian pula peluang pemanfaatan residu biogas yang optimal.

Secara sederhana, semakin banyak dapur yang menyala dengan biogas, semakin besar pula kemandirian energi desa.

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |