Agam (ANTARA) - Sejumlah warga di Nagari Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat berupaya menjalin silaturahim pada Hari Raya Idul Fitri dengan berjalan kaki melewati ruas jalan yang dipenuhi tumpukan batu dan material sisa banjir bandang.
Warnida di Agam, Sabtu, mengaku memilih jalur alternatif berupa jalan kecil yang dipenuhi tumpukan bebatuan di sisi kiri dan kanannya agar dapat lebih cepat mencapai kediaman kerabat suaminya. Namun, di tengah perjalanan, ia bersama keluarga terpaksa berbalik arah akibat genangan air yang cukup dalam dan memanjang.
Baca juga: Warga di Agam jadikan Lebaran momentum bangkit dari pascabencana
Dalam kondisi tersebut, anaknya harus menggendong bayi, sehingga mereka memutuskan kembali ke jalur utama meski waktu tempuh menjadi lebih lama.
Ia menyebutkan bahwa jembatan kecil di sekitar lokasi rumahnya telah terputus, membuat perjalanan ke rumah saudara lebih menantang. Meski demikian, tradisi silaturahim tetap dijalankan di tengah situasi pemulihan pascabencana.
“Rencana mau ke rumah keluarga. Bagaimana pun dalam keadaan seperti ini, kami tetap melihat sanak saudara, meski suasana sedikit kurang semangat karena keadaan kayak gini. Semoga bisa seperti yang dulu dulu lagi,” katanya.
Ruas jalan yang dilalui Warnida bersama keluarga berada tidak jauh dari aliran sungai yang dipenuhi material batuan besar akibat bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025.
Tak jauh dari sungai, dua perempuan muda terlihat menggendong anak balita mereka saat melintasi jembatan kayu sederhana dan menyusuri tepian sungai menuju rumah kerabat.
Baca juga: Warga terdampak bencana Agam kebut pembuatan rakik-rakik untuk Lebaran
Baca juga: Penyintas di huntara Agam Sumbar olah bantuan sembako jadi kue Lebaran
Sementara itu, sejumlah anak usia sekolah dasar tampak mengumpulkan uang pecahan baru ke dalam tas dan saku mereka. Tradisi “manambang” yang menjadi kebiasaan masyarakat setempat saat Lebaran tetap berlangsung, dimana anak-anak berkeliling dari rumah ke rumah untuk memperoleh Tabungan Hari Raya (THR) dalam bentuk uang kertas baru.
Berdasarkan data Dashboard Satu Data Bencana Sumatera Barat, sebanyak 2 unit di Nagari Maninjau hanyut dan hilang, selain itu 115 unit terdampak kerusakan, dengan taksiran kerugian total mencapai Rp44,8 miliar.
Pewarta: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































