Pengungsi Lebanon rayakan Idul Fitri dalam bayang-bayang konflik

3 hours ago 1

Beirut (ANTARA) - Di sepanjang pesisir barat Sidon, sekitar 40 kilometer selatan Beirut, deretan tenda darurat menghadap Laut Mediterania.

Dinding kainnya berkibar tertiup angin. Di dalamnya, keluarga-keluarga pengungsi tinggal di atas kasur tipis, sedikit harta benda yang mereka bawa ditumpuk dalam kantong plastik.

Tidak ada sekolah yang harus dihadiri, anak-anak pun mengisi waktu mereka dengan menempelkan potongan kertas warna-warni pada penutup tenda. Bentuknya memang kasar, namun, cukup mencerminkan dekorasi yang pernah menghiasi rumah mereka di selatan.

"Hari Raya Idul Fitri akan tetap ada, dan kami akan merayakannya walaupun segala sesuatu di sekitar kami telah berubah," kata Raeda Qabalan, yang mengungsi dari desa asalnya di Mays al-Jabal, salah satu permukiman di Lebanon selatan yang paling dekat dengan perbatasan Israel dan paling terdampak konflik tersebut.

Bagi para pengungsi di Lebanon, beginilah keadaan selama Idul Fitri, salah satu hari raya terpenting bagi umat Muslim. Tanpa pakaian baru, tanpa nampan berisi kue-kue manis.

Hanya penantian yang sunyi dan penuh kecemasan di tempat penampungan darurat.

Lebih dari 1 juta orang telah mengungsi di seluruh Lebanon sejak Israel meningkatkan aksi militernya di selatan dan timur Lebanon, yang memaksa warga di desa-desa perbatasan untuk mengungsi ke gedung-gedung sekolah, kota pegunungan, hingga kamp tenda darurat di sepanjang pantai.

Lonjakan pengungsi terbaru terjadi tak lama setelah memasuki awal Ramadan. Bagi banyak pengungsi, hampir seluruh bulan suci hingga Idul Fitri dihabiskan di tempat penampungan.

Di dalam tenda di sepanjang pesisir Sidon, Mohammad Sobeh yang berusia 10 tahun menggambar rumah mereka yang lenyap akibat serangan udara Israel.

"Begini rupa rumah kami sebelum serangan. Dulu kami merayakan Idul Fitri di sana," kata Mohammad Sobeh.

Adik perempuannya yang berusia tujuh tahun, Sarah, mengenang hilangnya tradisi liburan. Tahun ini, keluarga tersebut sepenuhnya bergantung pada suplai bantuan.

"Dulu kami biasa membuat kue Idul Fitri bersama nenek," kata Sarah mengenang.

Samia al-Abdallah, dari Kfar Kila, mengatakan cucunya yang berusia lima tahun kesulitan membedakan suara guntur dan suara ledakan.

"Dia bahkan bertanya bagaimana kami akan membangun kembali rumah kami dan membeli pakaian baru. Yang kami harapkan hanyalah agar perang berhenti sehingga kami dapat kembali ke rumah dan tanah kami," kata Samia.

Di Beiteddine, sebuah kota pegunungan yang telah menampung gelombang pengungsi, banyak keluarga tinggal di ruang kelas yang telah dialihfungsikan menjadi tempat tinggal sementara selama berbulan-bulan. Lingkungannya berbeda dari tenda-tenda di pesisir, namun, perasaannya masih sama.

Samira Srour, seorang ibu tiga anak, mengatakan anak-anaknya masih membicarakan soal kebiasaan yang sudah tidak bisa lagi mereka lakukan.

"Dahulu mereka biasa menunggu momen Idul Fitri untuk membeli pakaian baru dan mainan. Sekarang kami hidup di tengah perang yang telah merampas kegembiraan momen-momen tersebut," kata Samira.

Hari raya, yang secara tradisional merupakan waktu untuk berkumpul bersama keluarga besar, kini seolah kehilangan struktur sosialnya. Konflik tersebut telah memisahkan keluarga-keluarga yang dahulu dapat menghabiskan waktu bersama, yang kini justru harus terpencar ke berbagai tempat berbeda.

"Dahulu, Idul Fitri menyatukan keluarga. Dengan keluarga yang terpencar, hari raya ini kehilangan jiwanya," kata Dawoud Ayash (70), yang sekarang harus tidur di sebuah ruang kelas.

Bagi banyak pengungsi, hal yang paling sulit ditanggung bukanlah sekadar kondisi serba sulit saat ini. Melainkan kenyataan bahwa mereka pernah mengalami hal serupa sebelumnya.

Serangan militer skala besar Israel memicu gelombang pengungsi besar-besaran di seluruh Lebanon sejak Oktober 2023 hingga gencatan senjata yang rapuh tercapai pada akhir 2024. Banyak warga baru saja mulai membangun kembali rumah mereka sebelum akhirnya terpaksa mengungsi kembali.

Bagi mereka, Idul Fitri kali ini bukan hanya perayaan yang terlewatkan, tetapi juga babak lain dalam siklus kehilangan yang tak kunjung usai.

"Saya tidak tahu harus berkata apa kepada anak-anak saya. Ini perang yang tidak masuk akal. Perang ini telah merampas kegembiraan hari raya, dan banyak hal lainnya," kata ibu tiga anak itu.

Pewarta: Xinhua
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |