Wamenkomdigi sebut ION bisa jadi solusi kesenjangan digital UMKM

16 hours ago 1

Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan bahwa kehadiran Indonesia Open Network (ION) bisa menjadi solusi kesenjangan digital di kalangan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia.

Dalam acara 12th Annual Indonesia Economic Forum 2026 di Jakarta, Kamis, dia mengemukakan bahwa masih adanya kesenjangan yang tidak bisa diabaikan di balik pertumbuhan ekonomi digital nasional.

Menurut Nezar, nilai ekonomi digital nasional diproyeksikan melampaui 130 miliar dolar AS pada akhir tahun ini dan pembayaran digital telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Pada paruh pertama tahun 2025 saja, nilai transaksi berbasis QRIS tercatat telah mencapai lebih dari 6 miliar kali.

"Angka-angka itu mengesankan, tetapi sebenarnya belum menggambarkan kondisi keseluruhan. Di balik pertumbuhan ini, ada kesenjangan yang tidak bisa kita abaikan," kata Nezar.

Ia menyampaikan bahwa Indonesia memiliki sekitar 64,2 juta UMKM, yang berkontribusi 61 persen pada produk domestik bruto (PDB) serta menyerap 97 persen tenaga kerja secara nasional. Namun, belum semua pelaku UMKM terintegrasi dalam ekosistem digital.

Menurut Nezar, sebagian pelaku UMKM, terutama yang berada di luar kota besar, masih menghadapi sejumlah hambatan untuk mengakses dukungan platform digital, antara lain nilai komisi untuk platform yang tinggi dan keterbatasan akses terhadap layanan data.

"Alih-alih memberdayakan, sistem digital kadang justru menahan laju UMKM. Bagi banyak pelaku usaha, ekonomi digital masih terasa seperti ruang tertutup, bukan ruang terbuka," katanya.

"Inilah tepatnya masalah yang ingin diselesaikan oleh Indonesia Open Network," ia menambahkan.

Baca juga: Adopsi AI buka peluang dan tantangan baru bagi UMKM

ION merupakan hasil dari penguatan kemitraan India dengan Indonesia dalam bidang teknologi, yang dimulai dengan penandatanganan nota kesepahaman kerja sama di New Delhi, India, pada Januari 2025.

ION dikembangkan sebagai sistem perdagangan digital terbuka yang digerakkan sektor swasta tetapi berorientasi pada kepentingan publik.

Nezar mengatakan bahwa ION dirancang untuk menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi oleh pelaku usaha dalam menggunakan platform digital.

Menurut dia, infrastruktur digital publik ini mempertemukan pembeli, penjual, serta penyedia layanan logistik dalam sistem yang terbuka, sehingga pelaku usaha tidak terkunci pada satu platform saja.

Dengan skema tersebut, UMKM diharapkan memiliki lebih banyak pilihan saluran penjualan, kemudahan untuk menjangkau pasar yang lebih luas, serta kendali atas pertumbuhan usahanya.​​​​​​​

Nezar mengatakan bahwa ION merupakan wujud nyata implementasi kebijakan pemerintah, seperti Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 31 Tahun 2023, yang ditujukan untuk melindungi UMKM dari praktik perdagangan yang tidak adil dalam ekosistem digital.

"Regulasi saja tidak cukup. Kita juga memerlukan infrastruktur teknis yang tepat. ION menyediakan infrastruktur tersebut dengan mendukung penemuan usaha yang transparan, sistem interoperabel, serta transaksi yang dapat dilacak, sehingga keadilan tidak hanya tertulis dalam kebijakan, tetapi juga tertanam dalam sistem itu sendiri," ia menjelaskan.

Baca juga: iDEA: Talenta, infrastruktur merata pacu perkembangan ekonomi digital

ION diharapkan bisa menjadi fondasi bagi program pengembangan wirausaha digital Garuda Spark, yang ditargetkan dapat mencetak dua juta wirausahawan digital.

Dengan dukungan infrastruktur digital berskala nasional, pelaku usaha tidak perlu membangun platform tertutup dari awal, tetapi dapat langsung mengembangkan layanan di jaringan terbuka tersebut.​​​​​​​

Nezar menekankan bahwa inisiatif ini sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045, yang menargetkan Indonesia menjadi salah satu dari lima ekonomi terbesar dunia.

Guna mewujudkan visi tersebut, dia mengatakan, Indonesia tidak bisa hanya menjadi konsumen, tetapi harus menjadi pencipta dan pemilik inovasi digital.

"ION mendukung tujuan itu, bukan hanya sebagai jaringan perdagangan, tetapi sebagai bagian dari infrastruktur publik digital yang lebih luas, yang membantu mengurangi kesenjangan digital, terutama di luar pusat kota besar," kata Nezar.

Dia menambahkan, ION juga dapat meningkatkan produktivitas pelaku usaha melalui standar bersama di bidang logistik dan pembiayaan serta memperkuat kedaulatan digital dengan membangun aset nasional yang berakar pada budaya dan identitas bangsa.

Baca juga: Kemenhaj kembangkan platform digital belanja oleh-oleh haji

Baca juga: Menteri UMKM: Sinergi lintas sektor kunci ekosistem bisnis digital

Pewarta: Farhan Arda Nugraha
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |