Kuala Lumpur (ANTARA) - Wakil Menteri Komunikasi Malaysia Teo Nie Ching secara resmi membuka Sidang Umum ke-21 Konfederasi Jurnalis ASEAN (CAJ) di Kuala Lumpur, Malaysia, Senin.
Teo dalam sambutannya menyampaikan rasa bangganya bisa berkumpul bersama salah satu jaringan jurnalis paling lama berdiri dan paling aktif di kawasan.
"Sejak tahun 1975 CAJ telah memainkan peran penting dalam menjembatani keberagaman budaya kita dan memperkuat pemahaman regional," ujar Wamen Teo.
Dia menyampaikan lanskap global saat ini ditandai oleh tingkat keterhubungan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Saat ini terjadi masa ketidakpastian di mana peristiwa di Asia Barat bukan lagi sekadar gema yang jauh, melainkan kekuatan aktif yang membentuk narasi lokal dan menguji rapuhnya perdamaian kawasan.
"Dalam situasi yang penuh gejolak seperti ini, peran jurnalis melampaui sekadar pelaporan. Anda adalah arsitek utama akurasi dan konteks," kata Teo.
Teo mengatakan di dalam ASEAN, jurnalis memikul tanggung jawab yang lebih luas untuk memperkuat saling pengertian, mendukung integrasi regional, dan menjaga kepercayaan publik di tengah masyarakat ASEAN yang beragam.
Pada saat yang sama, integritas informasi semakin terancam, terutama karena Asia Tenggara kini memiliki lebih dari setengah miliar pengguna internet - angka yang telah meningkat lebih dari tiga kali lipat dalam satu dekade terakhir.
Teo menyampaikan dalam hal ini pemerintah Malaysia tetap teguh dalam komitmennya terhadap profesionalisme media dan kebebasan pers, yang ditopang oleh upaya panjang National Union of Journalists Malaysia (NUJM) dalam memperjuangkan hak dan kesejahteraan mereka yang berada di garis depan kebenaran.
AI dan jurnalisme
Teo menyampaikan tema Sidang Umum CAJ "Masa Depan AI dan Dampaknya terhadap Jurnalisme,” sangat relevan dan krusial. Kecerdasan buatan sedang mengubah cara informasi diproduksi, didistribusikan, dan dikonsumsi.
Teknologi ini menawarkan peluang besar, mulai dari meningkatkan efisiensi ruang redaksi hingga memperkuat analisis data dan membuat konten lebih mudah diakses, terutama bagi penyandang disabilitas
Namun, menurut dia, kemajuan tersebut juga membawa risiko serius. Isu seperti penyalahgunaan hak kekayaan intelektual, ketidakakuratan dalam konten yang dihasilkan oleh AI, serta menurunnya kepercayaan harus ditangani dengan hati-hati.
"Sikap kami jelas. Jurnalisme harus tetap berakar pada manusia. AI harus menjadi alat pendukung jurnalis, bukan menggantikan penilaian manusia, etika, dan akuntabilitas," jelas Teo.
Dia juga mencermati pentingnya menangkal berita palsu, yang kian mudah tersebar seiring perkembangan teknologi.
Dia meyakini melalui kerja sama regional yang kuat dan tanggung jawab bersama, tantangan-tantangan tersebut dapat diatasi secara efektif.
Lebih jauh dia menyatakan pentingnya jurnalis ASEAN untuk terus memperkuat kolaborasi dalam berbagi pengetahuan dan pengembangan kapasitas.
Pada saat yang sama, ASEAN harus mendorong terciptanya ekosistem digital yang adil dan seimbang, di mana platform global beroperasi secara bertanggung jawab serta menghormati nilai dan konteks kawasan.
"Dengan semangat persatuan dalam keberagaman, saya yakin jurnalis ASEAN akan terus menjadi jembatan bagi perdamaian, pemahaman, dan kerja sama. Dengan ini, dengan penuh kehormatan, saya secara resmi menyatakan dibukanya Sidang Umum ke-21 Konfederasi Jurnalis ASEAN," ujar Teo.
Ketua Umum PWI Akhmad Munir (kanan) menerima plakat dari Wakil Menteri Komunikasi Malaysia YB Teo Nie Ching, disaksikan Presiden baru Konfederasi Jurnalis ASEAN (CAJ) Low Boon Tat (kiri), di sela acara Sidang Umum CAJ di Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (27/4/2026). /ANTARA/Rangga Pandu Asmara Jingga.Sementara itu Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Akhmad Munir dalam ucapan selamatnya menyampaikan harapan agar Sidang Umum CAJ semakin memperkuat komitmen bersama untuk menjunjung tinggi integritas jurnalistik, menjaga kebebasan pers, dan membina ekosistem media yang tangguh serta bertanggung jawab di kawasan.
"Terimalah harapan terbaik kami untuk kepemimpinan NUJ yang sukses di CAJ," ujar Akhmad Munir.
Dalam rangkaian Sidang Umum ke-21 CAJ, dilakukan penyerahan kepemimpinan CAJ dari Indonesia kepada Malaysia yang ditandai dengan penyerahan pataka atau panji bendera CAJ oleh Presiden CAJ sebelumnya Atal S. Depari kepada Presiden baru CAJ Low Boon Tat.
Prosesi penyerahan pataka CAJ dari Indonesia kepada Malaysia disaksikan Wakil Menteri Komunikasi Malaysia YB Teo Nie Ching, Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia Akhmad Munir, dan delegasi PWI, serta delegasi persatuan wartawan dari negara-negara anggota ASEAN.
Turut hadir dalam acara tersebut perwakilan persatuan jurnalis dari Korea Selatan dan China, Koordinator Fungsi Penerangan Sosial dan Budaya Kedutaan Besar Republik Indonesia Kuala Lumpur Fery Iswandy dan perwakilan lain kedutaan besar negara sahabat untuk Malaysia.
Delegasi PWI Pusat yang turut hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Akhmad Munir selaku Ketua Umum, Atal S. Depari sebagai Ketua Dewan Kehormatan, Ahmed Kurnia Soeriawidjaja selaku Direktur CAJ, Yono Hartono sebagai Wakil Direktur CAJ, Agus Sudibyo selaku Ketua Bidang Pendidikan, Irfan Junaidi sebagai Ketua Bidang Luar Negeri, Sumber Rajasa Ginting sebagai Wakil Bendahara Umum I, Herlina sebagai Wakil Bendahara Umum II.
Lalu Novrizon Burman sebagai Wakil Ketua Bidang Pembinaan Daerah, Kadirah sebagai Wakil Ketua Bidang Kerjasama dan Kemitraan, Musrifah sebagai Wakil Ketua Departemen Hankam Khusus POLRI, Mercys Charles Loho sebagai Wakil Direktur Anti Hoax, serta Theodorus Dar Edi Yoga sebagai Bendahara CAJ.
Baca juga: Indonesia resmi serahkan kepemimpinan CAJ kepada Malaysia
Baca juga: Ketum PWI Pusat pimpin delegasi Indonesia ke CAJ di Kuala Lumpur
Pewarta: Rangga Pandu Asmara Jingga
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































