Jakarta (ANTARA) - Badan Perdagangan dan Pembangunan Amerika Serikat (USTDA) mendukung penerapan teknologi asal AS untuk meningkatkan pengolahan mineral kritis litium dari operasi energi panas bumi di Indonesia.
Melalui proyek percontohan yang didanai USTDA, Lilac Solutions, Inc. yang berbasis di California akan mendemonstrasikan teknologinya di fasilitas PT Geo Dipa Energi (GDE), menurut rilis Kedutaan Besar AS di Jakarta, Selasa (17/3).
Direktur Utama GDE Yudistian Yunis mengatakan dukungan USTDA menjadi langkah penting untuk memperkuat kemandirian Indonesia dalam memenuhi kebutuhan litium sekaligus mempererat kolaborasi strategis dengan Amerika Serikat.
Ia menilai inisiatif tersebut dapat mendukung pengembangan industri baterai nasional dan aplikasi litium domestik lainnya melalui peningkatan nilai tambah sumber daya terbarukan.
"Litium secara alami terkandung dalam air panas bumi yang sudah menjadi bagian dari operasi panas bumi yang ada, sehingga kami dapat menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal sambil tetap menjaga kelestarian lingkungan," kata Yunis.
Ia menambahkan dukungan USTDA diharapkan mempercepat akses terhadap inovasi dan keahlian AS serta membuka peluang kerja sama dengan calon pembeli dari Amerika.
Kolaborasi tersebut juga diharapkan menarik investasi lanjutan dan memperkuat skalabilitas proyek dalam jangka panjang.
Menurut Yunis, kemitraan ini mencerminkan kerja sama yang saling menguntungkan, meningkatkan ketahanan rantai pasok, serta mendorong pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan.
Sementara itu, Wakil Direktur USTDA Thomas R. Hardy mengatakan fasilitas tersebut akan menjadi yang pertama di Indonesia dalam mengekstraksi litium dari air panas bumi.
Ia menyebut proyek ini akan menciptakan sumber pasokan litium yang andal sekaligus mendukung kebutuhan teknologi modern dan energi di Indonesia.
"Keamanan dan kemakmuran Amerika bergantung pada akses terhadap mineral kritis dari sumber yang terpercaya," ujar Hardy.
"Proyek ini menyoroti nilai solusi AS dalam membangun rantai pasok yang tangguh dan mendorong pengembangan sumber daya yang bertanggung jawab bersama mitra kami di Indonesia," katanya.
Lilac akan menerapkan teknologi pertukaran ion untuk pengolahan litium di lapangan panas bumi Dieng, Jawa Tengah.
Teknologi tersebut bertujuan menunjukkan metode yang efektif dan bertanggung jawab dalam menghasilkan litium karbonat berkualitas tinggi.
Dukungan USTDA juga akan menghubungkan GDE dengan calon pembeli litium karbonat dari AS.
Proyek tersebut diharapkan menarik pendanaan untuk ekspansi serta membuka peluang baru bagi pengembangan panas bumi di Indonesia dan kawasan Indo-Pasifik.
Sementara itu, CEO Lilac Raef Sully mengatakan dukungan USTDA membuka peluang bagi perusahaan teknologi AS untuk bersaing di pasar global.
"Lapangan panas bumi Indonesia memiliki potensi litium yang besar dan belum dimanfaatkan, dan proyek ini akan membuktikan bahwa teknologi pertukaran ion Amerika dapat mengoptimalkannya secara bertanggung jawab dan berskala besar," katanya.
USTDA merupakan inisiatif pemerintah AS yang mendukung pengembangan infrastruktur di negara berkembang serta mendorong penerapan solusi teknologi AS.
USTDA mendanai tahap awal teknis proyek untuk mempercepat pengembangan serta membantu menarik pendanaan dan pengadaan barang serta jasa dari AS.
Baca juga: OIKN: AS bantu wujudkan kota cerdas IKN melalui hibah 2,49 juta dolar
Baca juga: PLN dan USTDA teken Mou Konektivitas Energi
Pewarta: Katriana
Editor: Anton Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































