Unismuh dan UTHM Malaysia bahas transformasi pembelajaran era AI

1 week ago 3
Lembaga pendidikan dituntut beradaptasi secara inovatif tanpa mengabaikan integritas akademik

Makassar (ANTARA) - Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh Makassar) bersama Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM) menggelar kuliah tamu internasional bahas transformasi pembelajaran bahasa di era kecerdasan buatan (AI).

Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom itu membahas dampak kecerdasan buatan terhadap proses pembelajaran, komunikasi, dan praktik penulisan akademik di perguruan tinggi.

Dekan Pusat Pengajian Bahasa UTHM, Prof Madya Dr Azmi bin Abdul Latif dalam keterangannya di Makassar, Selasa, perkembangan AI telah mengubah cara pengajar dan mahasiswa berinteraksi dengan bahasa, mulai dari proses menulis hingga komunikasi akademik.

Karena itu, kata dia, lembaga pendidikan dituntut beradaptasi secara inovatif tanpa mengabaikan integritas akademik.

Baca juga: Huawei Luncurkan Laporan "Fully Connected Industrial Networks" guna Mendorong Pemutakhiran Arsitektur Pabrik Cerdas

Ketua LP2B Unismuh Makassar Prof Sulfasyah menegaskan sebagai pendidik, kita harus terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa mengabaikan kualitas dan etika pendidikan.

Pada sesi pertama, Dr Radiah Hamid selaku representatif Unismuh Makassar yang juga Kaprodi Magister Pendidikan Bahasa Inggris memaparkan materi bertajuk Umpan Balik Korektif dalam Proses Pembelajaran dan Pengajaran. Ia menegaskan bahwa AI tidak akan mengurangi kebutuhan terhadap guru di kelas.

“AI dapat mengotomatisasi beberapa tugas, tetapi tidak dapat menggantikan pendampingan, empati, dan bimbingan yang diberikan guru. Peran guru akan bergeser, tetapi tetap sentral,” ujarnya.

Radiah menjelaskan, umpan balik korektif bertujuan meningkatkan performa mahasiswa dengan menyoroti kesalahan secara objektif dan spesifik, serta berfokus pada tugas, bukan pada karakter pribadi.

Ia juga menekankan pentingnya penggunaan bahasa positif dan arahan yang jelas agar mahasiswa tetap termotivasi.

Sesi kedua menghadirkan Prof Madya Dr Zulida Binti Abdul Kadir yang memaparkan bahwa kecemasan berkomunikasi merupakan rasa takut atau cemas saat berinteraksi, baik secara lisan maupun tertulis.

“Hasil penelitian kami menunjukkan adanya penurunan signifikan tingkat kecemasan berkomunikasi setelah mahasiswa mengikuti intervensi berbantuan AI,” kata Zulida.

Menurut dia, AI menyediakan lingkungan latihan yang aman dan tidak menghakimi, sehingga mahasiswa dapat berlatih tanpa tekanan sosial secara langsung. Interaksi non-emosional dari sistem AI dinilai membantu meningkatkan kepercayaan diri dan frekuensi latihan berbicara.

Adapun sesi ketiga dibawakan Prof Madya Dr Sarala melalui materi Instruksi Berbantuan AI dalam Meningkatkan Praktik Penulisan Akademik Mahasiswa Pascasarjana. Ia menguraikan sejumlah tantangan penulisan akademik, mulai dari penyusunan argumen, koherensi paragraf, hingga isu plagiarisme.

“Alat AI dapat membantu pemeriksaan tata bahasa, kejelasan kalimat, dan penyuntingan awal, tetapi berpikir kritis tetap menjadi tanggung jawab penulis,” ujarnya.

Baca juga: CEO Advance Intelligence Group terpilih sebagai Endeavor Entrepreneur

Pewarta: Abdul Kadir
Editor: Sambas
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |