UNHCR: Lebih dari 100.000 orang mengungsi di Yaman sejak Juli

5 hours ago 2

Moskow (ANTARA) - Lebih dari 100.000 orang di Yaman terpaksa meninggalkan rumah mereka setelah eskalasi konflik pada Juli, menurut Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) pada Selasa (15/9).

"UNHCR, Badan PBB untuk Pengungsi, memperingatkan bahwa pertempuran yang meningkat dengan cepat di sepanjang pantai barat Yaman telah menyebabkan lebih dari 100.000 orang mengungsi di dalam negeri dan memaksa ribuan orang lainnya mencari tempat aman dengan menyeberangi Selat Bab el-Mandeb," kata UNHCR dalam sebuah pernyataan.

Dalam empat hari terakhir, lebih dari 2.400 orang telah menyeberang ke Djibouti.

Sementara itu, keperluan paling mendesak di Yaman meliputi tempat tinggal, makanan, air bersih, layanan medis, dan perlindungan. Hal itu diperlukan karena komunitas tuan rumah dan lokasi pengungsian sudah mencapai batas kemampuannya.

Baca juga: PBB: Sedikitnya 125.000 orang mengungsi akibat konflik di Yaman

"Akses kemanusiaan masih menjadi tantangan besar. Ketidakamanan, jalan yang rusak, gangguan telekomunikasi, dan pembatasan pergerakan berpengaruh terhadap operasional," kata badan tersebut.

Situasi di Yaman semakin memanas pada pertengahan Juli ketika pasukan pro-pemerintah menyerang Bandara Sanaa tepat saat sebuah pesawat dari Iran, yang mengangkut delegasi pemimpin Houthi, sedang mendarat.

Kelompok Houthi menyalahkan Arab Saudi atas serangan tersebut dan menyatakan perang terhadap kerajaan itu hingga pencabutan blokade terhadap wilayah-wilayah yang dikuasai Houthi.

Selama sepekan terakhir, mereka meraih kemajuan signifikan di wilayah barat daya dan barat Yaman, dengan merebut pantai Laut Merah dan pemukiman di dekat Selat Bab el-Mandeb, termasuk pelabuhan strategis Al-Mocha.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti

Baca juga: Arab Saudi tegaskan tidak kompromi soal keamanan negara

Penerjemah: Katriana
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |