Ultrasound portabel beri harapan ibu hamil di Kongo yang masih konflik

1 hour ago 1

Goma, RD Kongo (ANTARA) - Setelah delapan bulan menjalani kehamilan, Kahambu Grace akhirnya bisa melihat bayinya yang masih dalam kandungan untuk pertama kalinya.

Selama bertahun-tahun, Grace, yang sudah menjadi ibu dari dua anak, tak pernah bisa melakukan pemeriksaan pranatal karena biaya.

Namun akhirnya, dengan berbaring di atas sebuah ranjang pemeriksaan yang sempit, Grace kini bisa menyaksikan bayinya muncul pada layar ponsel pintar (smartphone), sebuah perangkat yang mengubah hasil ultrasound menjadi gambar waktu nyata (real-time), sesuatu yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

Grace, yang berusia 30-an, baru-baru ini menembus jalanan yang ramai dan pos pemeriksaan militer di Goma, sebuah kota yang berada di bawah kendali pemberontak di bagian timur Republik Demokratik (RD) Kongo, demi menghadiri pemeriksaan pranatalnya di Pusat Kesehatan Lubango.

Wajahnya memancarkan perpaduan kelelahan dan tekad saat dia bergabung dalam antrean pagi yang bergerak lambat, setiap langkah membawanya semakin dekat pada gambaran kehidupan yang sedang tumbuh di dalam rahimnya.

Foto yang diabadikan dengan ponsel ini menunjukkan seorang dokter menggunakan aplikasi USG seluler untuk memantau pasien hamil di sebuah pusat kesehatan di Goma, Provinsi Kivu Utara, Republik Demokratik Kongo (DRC), pada 21 November 2025. (Xinhua/Str)

Selama bertahun-tahun, Grace, yang sudah menjadi ibu dari dua anak, tak pernah bisa melakukan pemeriksaan pranatal karena biaya. Namun akhirnya, saat berbaring di atas sebuah ranjang pemeriksaan yang sempit, ibu hamil tersebut kini bisa menyaksikan bayinya muncul pada layar smartphone, sebuah perangkat yang mengubah hasil ultrasound menjadi gambar real-time, sesuatu yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

"Saya tidak tahu posisi bayi saya karena saya tidak punya uang (untuk melakukan pemeriksaan)," ungkapnya. "Hari ini saya sangat senang. Melihat ini membuat saya yakin bayi saya sehat. Kami tidak memiliki biaya yang cukup untuk pergi rumah sakit besar."

Foto yang diabadikan dengan ponsel ini menunjukkan seorang dokter menggunakan aplikasi USG seluler untuk memantau pasien hamil di sebuah pusat kesehatan di Goma, Provinsi Kivu Utara, Republik Demokratik Kongo (DRC), pada 21 November 2025. (Xinhua/Str)

Ultrasound portabel ini praktis, muat di telapak tangan. Sebuah probe ringan yang dipasangkan dengan ponsel pintar memberikan informasi diagnostik yang sebelumnya hanya bisa didapat di rumah sakit dengan peralatan lengkap.

Di sebuah kota di mana banyak jalanan terputus, rumah sakit penuh sesak, dan rujukan nyaris mustahil, perangkat ini akhirnya membuat perawatan prenatal dasar menjadi lebih mudah dijangkau.

Kelegaan Grace mencerminkan kecemasan yang dirasakan secara diam-diam oleh ribuan wanita hamil saat berusaha melewati masa kehamilan di tengah situasi yang tidak aman.

Goma, ibu kota Provinsi North Kivu, dan yang pernah menjadi pusat perkotaan ramai dengan penduduk lebih dari satu juta jiwa, telah berada di bawah kendali pemberontak Gerakan 23 Maret (March 23 Movement/M23) sejak akhir Januari. Di sini, kehamilan bukan hanya merupakan perjalanan pribadi, tetapi juga menjadi bukti ketahanan komunitas.

Kekurangan pasokan terus terjadi, pengungsian masih berlangsung, dan ketidakamanan membayangi kehidupan sehari-hari. Klinik sementara yang didirikan di lokasi pengungsian dan pusat kesehatan yang penuh sesak telah menjadi menjadi penyelamat vital bagi wanita dan perempuan yang mungkin akan menghadapi kehamilan tanpa dukungan medis.

Di tengah realita yang rapuh, sejumlah klinik tetap beroperasi dan tenaga kesehatan terus menjalankan tugasnya, sementara para wanita tetap berusaha untuk mengakses layanan perawatan medis.

Foto yang diabadikan dengan ponsel ini menunjukkan seorang dokter menggunakan aplikasi USG seluler untuk memantau pasien hamil di sebuah pusat kesehatan di Goma, Provinsi Kivu Utara, Republik Demokratik Kongo (DRC), pada 21 November 2025. (Xinhua/Str)

Di dalam Pusat Kesehatan Lubango (Lubango Health Center), bidan Jean Kasereka melayani para pasien dengan tenang dan cekatan. Dia mengenang masa-masa ketika sebagian besar wanita datang dalam keadaan persalinan tanpa pernah menjalani pemeriksaan sebelumnya -- bukan karena kelalaian, tetapi karena konflik, jarak, dan keterbatasan sumber daya menjadi hambatan bagi mereka.

"Kami telah mengalami banyak penderitaan," ujarnya. "Banyak ibu hamil datang untuk melakukan persalinan tanpa pemeriksaan sama sekali."

Bagi tenaga kesehatan yang berada di garis depan, setiap komplikasi yang berhasil dihindari merupakan kemenangan kecil dalam situasi di mana keterlambatan penanganan dapat berakibat fatal.

"Sekarang, alat (ultrasound portabel) ini menjadi sebuah keberkahan. Para wanita yang rentan merasa senang, dan alat ini membantu kami memantau kehamilan mereka dengan cermat serta mencegah bahaya," kata Kasereka.

Sejak 2022, Dana Kependudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFPA) telah meluncurkan inisiatif ini di seluruh Goma dan wilayah sekitarnya di Provinsi Kivu Utara, di mana pemberontak M23 menguasai sebagian besar wilayah di tengah pertempuran yang semakin intensif dengan militer RD Kongo.

Solange Ngolosok, seorang staf UNFPA di wilayah tersebut, mengatakan bahwa inisiatif ini dirancang untuk memberikan cara-cara praktis menjangkau perempuan meski sering terjadi perpindahan penduduk dan kondisi tidak aman.

"Pengerahan pertama (ultrasound portabel) dilakukan di daerah yang terdampak konflik, yaitu Goma, Karisimbi, dan zona kesehatan Kirotshe, termasuk klinik tetap yang didirikan oleh UNFPA di lokasi pengungsian untuk merespons kebutuhan wanita dan perempuan yang rentan," papar Ngolosok.

Foto yang diabadikan dengan ponsel ini menunjukkan seorang dokter menggunakan aplikasi USG seluler untuk memantau pasien hamil di sebuah pusat kesehatan di Goma, Provinsi Kivu Utara, Republik Demokratik Kongo (DRC), pada 21 November 2025. (Xinhua/Str)

Skala kebutuhannya sangat mengkhawatirkan. Menurut PBB, lebih dari 2,4 juta orang telah mengungsi sejak Januari 2025, sehingga jumlah pengungsi internal hampir mencapai 6 juta orang, termasuk sejumlah besar wanita hamil.

Bagi Grace dan banyak perempuan lainnya, tindakan sederhana dapat melihat janin mereka bukanlah sekadar pemeriksaan medis, momen itu menghadirkan harapan sekaligus pengingat bahwa kehidupan terus berlanjut dan ketangguhan tidak padam, bahkan di tengah bayang-bayang konflik.

Pewarta: Xinhua
Editor: Junaydi Suswanto
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |