Banjarbaru (ANTARA) - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan telah berlangsung selama tiga bulan terakhir, terhitung sejak Juli hingga September ini.
Kota Banjarbaru menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah karena dikepung karhutla dari segala sisi. Di kota ini, karhutla melanda Kecamatan Landasan Ulin, yang mencakup ring 1 Bandara Internasional Syamsudin Noor di Kelurahan Syamsudin Noor dan Kelurahan Guntung Payung, serta Kecamatan Liang Anggang, mulai dari kawasan Pengayuan di Kelurahan Landasan Ulin Selatan hingga hutan lindung Liang Anggang.
Kondisi tersebut diperparah oleh asap kiriman dari daerah tetangga yang berbatasan langsung dengan Banjarbaru, seperti Kabupaten Banjar, Tanah Laut, dan Barito Kuala.
Hingga Minggu (20/9/2026), kualitas udara di ibu kota Kalimantan Selatan tersebut belum juga membaik dan justru makin memburuk. Warga terpaksa menghirup udara tidak sehat sepanjang hari.
Kondisi terparah terjadi sejak menjelang subuh hingga pagi hari. Udara baru sedikit membaik pada siang hari saat terik matahari mulai mengurai pekatnya asap. Situasi berulang ini membuat warga terus bergelut dengan ancaman asap karhutla yang tak kunjung usai.
Aktivitas luar ruangan pun kian berisiko memicu gangguan kesehatan, seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), pneumonia, asma, hingga iritasi mata.
Fitrianyah (31), warga Jalan Kasturi 2, Kelurahan Syamsudin Noor, mengaku terpaksa menghentikan kebiasaan joging pagi.
"Sudah dua bulan ini, sejak Agustus, saya tidak joging lagi karena asap makin parah setiap pagi," ujarnya.
Ia menilai berolahraga di tengah kualitas udara buruk justru berbahaya. Niat ingin sehat malah berisiko sakit akibat menghirup udara yang terkontaminasi asap sisa pembakaran lahan.
Hal serupa dirasakan Nur Laila (41), warga Jalan Kurnia, Kelurahan Landasan Ulin Utara. Ia memilih berhenti bersepeda pada akhir pekan sejak kabut asap melanda. Nur berharap kualitas udara segera pulih agar masyarakat dapat beraktivitas di luar rumah tanpa dibayangi rasa cemas.
Udara segar kini menjadi hal yang sangat dirindukan oleh masyarakat di "Kota Idaman" yang menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) akhir 2024 dihuni oleh 285.546 jiwa ini.
Baca juga: Luas karhutla di Banjarbaru 1.263 hektare meski jumlah titik api menurun
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































