Kenapa Gen Z kurang suka sayur? Ini 4 alasan utamanya

2 hours ago 4

Jakarta (ANTARA) - Generasi muda (Gen Z) yang enggan atau kurang gemar mengonsumsi sayuran menjadi perhatian serius di bidang kesehatan masyarakat. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) oleh Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa sekitar 95% remaja dan anak muda di Indonesia tergolong kurang mengonsumsi sayur dan buah.

Hal itu juga diperkuat oleh data survei Jakpat yang menempatkan Gen Z sebagai kelompok generasi dengan tingkat konsumsi buah dan sayur terendah dibanding Generasi X maupun Milenial.

Rendahnya minat Gen Z terhadap sayuran bukanlah sekadar masalah "pilih-pilih makanan", melainkan dipengaruhi oleh kombinasi faktor biologis, kebiasaan, hingga gaya hidup modern.

Alasan mengapa gen-z menyukai sayur

1. Sensitivitas genetik terhadap rasa pahit

Secara biologis, terdapat gen bernama TAS2R38 yang mengatur tingkat sensitivitas lidah terhadap rasa pahit. Individu dengan variasi genetik tertentu (supertaster) dapat merasakan senyawa pahit seperti glucosinolates pada sayuran (misalnya kubis, brokoli, dan pare) dengan jauh lebih kuat dibanding orang lain. Rasa pahit yang tajam ini sering kali membuat anak muda enggan mengonsumsinya.

Baca juga: Dokter ingatkan serat tak hanya bisa didapatkan dari buah dan sayur

2. Terbiasa dengan makanan fast food

Gen Z tumbuh di era di mana makanan cepat saji (fast food) dan makanan olahan (ultra-processed food) sangat mudah diakses melalui layanan antar-jemput daring. Makanan olahan ini dirancang tinggi gula, garam, dan lemak jenuh yang secara konstan memicu pelepasan dopamin di otak. Akibatnya, ambang batas rasa (palate) anak muda terbiasa dengan cita rasa yang kuat (hyperpalatable), sehingga sayuran dengan rasa alami yang cenderung tawar atau pahit terasa kurang menggugah selera.

3. Tekstur yang kurang menarik dan cara pengolahan

Riset ilmiah mengenai determinan perilaku makan remaja menunjukkan bahwa faktor cara memasak memegang peranan penting. Sayuran yang dimasak terlalu matang (overcooked) sering kali kehilangan warna cerahnya, teksturnya menjadi lembek, dan menghasilkan aroma yang kurang menyenangkan. Kurangnya variasi olahan sayur di rumah tangga memicu kebosanan pada Gen Z

4. Keterbatasan waktu dan kepraktisan

Gaya hidup Gen Z yang serba cepat membuat aspek kepraktisan menjadi prioritas utama. Mengolah dan membersihkan sayur segar membutuhkan waktu persiapan yang lebih lama dibandingkan mengonsumsi makanan siap saji atau camilan kemasan.

Baca juga: Vitamin C dapat tingkatkan imunitas di kala musim hujan

Baca juga: BPOM: Perhatikan "Isi Piringku" dan ING untuk asupan gizi seimbang

Pewarta: Munifa Husna Haryanti
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |