Tantangan riset logam tanah jarang bagi Indonesia

4 hours ago 1
Dibanding negara lain, data dan informasi REEs di sistem tanah Indonesia juga masih sangat terbatas

Jakarta (ANTARA) - Publik di tanah air semakin sering mendengar istilah logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth elements (REEs). Hal itu karena, belakangan, Tiongkok membatasi ekspor LTJ yang sangat penting di dunia industri elektronika modern.

Mineral LTJ menjadi bahan baku industri komponen mesin jet pesawat tempur, pesawat terbang komersial, hingga sistem senjata rudal. Ia juga merupakan bahan baku komponen elektronik lainnya seperti pendeteksi bawah laut, pertahanan antirudal, alat pelacak, pembangkit energi pada satelit, maupun komunikasi.

Selama ini REEs di alam umumnya dikaji oleh ilmuwan geologi dan pertambangan yang mengeksplorasi sebaran dan kelimpahannya di berbagai wilayah serta teknologi ekstraksi REEs untuk kepentingan industri.

Padahal, sebaran dan kelimpahan REEs tidak hanya di kerak bumi dalam bentuk bearing mineral (mineral pembawa) sebagai batuan yang ekonomis untuk ditambang sebagai bahan baku industri.

Jejak REEs dapat ditemukan juga di tanah yang merupakan hasil pelapukan batuan yang telah berinteraksi dengan makhluk hidup. Jejak REEs dapat terlihat di tanah yang merupakan selimut tipis di permukaan bumi yang menjadi penopang kehidupan tumbuhan, hewan, manusia, dan lingkungan yang lebih luas.

Ahli ilmu tanah Prof Zeng-Yei Hseu PhD dari Department of Agricultural Science, College of Bioresources & Agriculture, National Taiwan University, mengajak para ilmuwan ilmu tanah, termasuk Indonesia, untuk mengkaji lebih jauh REEs di tanah serta dampaknya pada tumbuhan, hewan, manusia, serta lingkungan.

Menurut Hseu, istilah rare alias jarang kerap mengecoh masyarakat awam yang mengira mineral tersebut benar-benar jarang. Padahal, sebetulnya REEs tidak benar-benar jarang karena di kerak bumi bisa saja berlimpah, termasuk di tanah, melampaui mineral lainnya seperti timbal dan tembaga.

Istilah rare sebetulnya merujuk pada karakternya yang tidak umum dibanding karakter mineral lain pada umumnya di deret tabel periodik kimia yang dikenal luas.

Karakter tidak umum itu berupa kompleksitas dalam pemisahan dan pengolahannya dibanding logam lain. Unsur-unsur ini tidak hadir sebagai logam bebas, melainkan terikat dalam mineral seperti monasit, bastnasite, dan xenotim.

Padahal, dalam beberapa tahun terakhir, REEs adalah tulang punggung teknologi modern, mulai baterai kendaraan listrik, turbin angin, hingga perangkat elektronik canggih.

Pada sebuah seminar di Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, baru-baru ini, Hseu mengajak ilmuwan ilmu tanah dan para penerusnya yaitu para mahasiswa ilmu tanah untuk mempelajari lebih dalam REEs.

Riset REEs

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |