Jakarta (ANTARA) - Syngenta Indonesia mengenalkan fungisida inovatif untuk padi berbasis teknologi Adepidyn sebagai upaya mendukung program swasembada pangan, khususnya beras di tanah air.
Presiden Direktur Syngenta Indonesia Eryanto mengatakan fungisida yang diberi nama Miravis Duo dirancang untuk memenuhi kebutuhan petani akan solusi pengendalian penyakit yang andal, memberikan perlindungan yang kuat dan konsisten, sekaligus menjaga tanaman tetap sehat, lebih hijau, dan bersih, sehingga mendukung potensi hasil panen yang lebih tinggi.
"Dengan teknologi Adepidyn, produk ini meningkatkan kesehatan tanaman dan memberikan perlindungan efektif terhadap penyakit bahkan di tengah kondisi cuaca yang semakin sulit diprediksi," ujar dia dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.
Teknologi tersebut, lanjutnya juga dikenal memiliki ketahanan terhadap hujan yang sangat baik, dengan perlindungan hingga 14 hari setelah aplikasi.
Peluncuran produk fungisida inovatif untuk padi yang dilakukan di Kabupaten Cilacap Jawa tersebut menurut Eryanto menjadi pencapaian penting karena Indonesia negara pertama yang memperkenalkan teknologi Adepidyn khusus untuk budidaya padi.
Melalui peluncuran tersebut, tambahnya, menjadi wujud komitmen perusahaan membantu petani meningkatkan hasil panen untuk keuntungan maksimal, mempercepat inovasi teknologi fungisida sesuai kebutuhan petani, serta memperkuat kolaborasi agar teknologi pertanian digunakan sesuai rekomendasi demi hasil yang optimal dan berkelanjutan.
Baca juga: Petani diminta waspadai munculnya hama pada musim hujan
Baca juga: Peneliti: Biofungisida Lebih Aman Basmi Hama Dibanding Fungisida
Setelah peluncuran di Cilacap, produk fungisida untuk padi tersebut juga akan segera diperkenalkan di beberapa wilayah sentra produksi beras di Indonesia, guna mendukung ketahanan pangan nasional dan swasembada beras.
Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, Cicik Setyorini menyatakan pengenalan fungisida untuk padi sejalan dengan upaya pemerintah daerah meningkatkan produktivitas dan memperkuat budidaya padi di tingkat petani.
“Kami menyambut baik inovasi perlindungan tanaman yang dapat membantu petani mengelola risiko penyakit, terutama di tengah cuaca yang semakin sulit diprediksi," katanya.
Pihaknya berharap teknologi seperti ini dapat diadopsi dengan bijak sesuai rekomendasi, sehingga produktivitas dan kualitas panen padi di wilayah tersebut terus meningkat.
Kabupaten Cilacap dikenal sebagai salah satu sentra produksi padi terbesar di Jawa dan Indonesia, dengan perkiraan produksi mencapai 855.042 ton Gabah Kering Giling (GKG) yang mana pada 2025 mencatat surplus beras lebih dari 321 ribu ton.
Musodik, petani padi dari Cilacap mengungkapkan setelah menerapkan teknologi tersebut pada tanaman padi miliknya terlihat gabah sehat berkilau, daun bendera lebih hijau dan bersih, serta hasil panen meningkat dibandingkan musim sebelumnya.
Baca juga: Nematoda musuh tersembunyi swasembada pangan
Baca juga: Prabowo bantu 1.000 burung hantu pembasmi hama tikus di Majalengka
Baca juga: Daftar penyakit dan hama tanaman padi saat musim hujan
Pewarta: Subagyo
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































