Studi ungkap minuman manis berisiko gangguan kecemasan pada remaja

6 hours ago 2

Jakarta (ANTARA) - Sebuah studi mengungkapkan mengonsumsi minuman manis secara berlebihan dapat meningkatkan risiko terkait gangguan kecemasan pada remaja.

Hal ini menurut sebuah meta-analisis yang dipublikasikan di jurnal Journal of Human Nutrition and Dietetics, para peneliti dari Inggris meninjau berbagai studi yang dilakukan antara tahun 2000 hingga 2025, sebagaimana dikutip laporan New York Post, Jumat (13/3) waktu setempat.

Studi tersebut meneliti hubungan antara konsumsi minuman berpemanis gula, seperti soda, minuman energi, jus manis, teh manis, dan kopi manis, dengan gangguan kecemasan pada remaja berusia 10 hingga 19 tahun.

Remaja yang mengonsumsi minuman manis dalam jumlah lebih tinggi diketahui memiliki sekitar 34 persen risiko lebih besar mengalami gangguan kecemasan dibandingkan mereka yang jarang mengonsumsinya.

Baca juga: Gejala awal penyakit jantung pada wanita mirip dengan kecemasan

Tujuh dari sembilan studi yang dianalisis peneliti menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara konsumsi minuman manis dan gejala kecemasan.

Salah satu penulis studi sekaligus dosen nutrisi di Bournemouth University, Inggris, Dr. Chloe Casey mengatakan bahwa dampak pola makan terhadap kesehatan mental masih relatif jarang diteliti, terutama pada minuman yang tinggi energi tetapi rendah nutrisi.

Hal ini dinilainya sebagian besar inisiatif kesehatan masyarakat selama ini menekankan konsekuensi fisik dari pola makan yang buruk, seperti obesitas dan diabetes tipe 2.

“Walaupun kami belum dapat memastikan penyebab langsungnya, studi ini menemukan adanya hubungan tidak sehat antara konsumsi minuman manis dan gangguan kecemasan pada anak muda,” kata Casey.

Gangguan kecemasan pada remaja sendiri meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Oleh karena itu, penting untuk mengidentifikasi kebiasaan gaya hidup yang bisa diubah guna menurunkan risiko tren tersebut terus berlanjut.

Ahli gizi terdaftar dari Los Angeles, Ilana Muhlstein mengatakan bahwa soda pada dasarnya adalah gula cair, tanpa serat, protein, atau lemak yang memperlambat penyerapan.

Sehingga masuk ke aliran darah lebih cepat dibanding hampir semua jenis makanan atau minuman lain. Ketika itu terjadi, pankreas harus bekerja keras merespons, insulin meningkat, lalu kadar gula darah turun dengan cepat.

Baca juga: Kiat kelola kecemasan, tetapkan batas hingga rutinitas yang konsisten

Kondisi tersebut dapat menimbulkan keadaan kekurangan dopamin yang terasa mirip dengan kecemasan.

“Semakin tajam lonjakan gula darahnya, semakin dalam penurunannya,” ujar Muhlstein.

Dalam praktiknya, Muhlstein juga melihat tren bahwa remaja kini mengonsumsi lebih sedikit soda tetapi lebih banyak latte susu oat, minuman kopi dengan sirup, slushie, dan minuman olahraga.

Lonjakan gula darah berlebihan juga dapat memengaruhi berat badan, jerawat, kualitas tidur, dan pengaturan emosi, terlepas dari kadar kafein.

“Apa yang diminum anak-anak ini sangat memengaruhi kondisi fisik dan emosional mereka, dan kafein di atas gula darah yang tidak stabil hanya akan memperburuk keadaan,” tutur dia.

Ahli nutrisi bersertifikat dan pakar longevity dari Los Angeles, Serena Poon, menekankan makanan dan minuman lebih dari sekadar sumber energi, di mana juga memberikan informasi bagi tubuh dan otak.

Baca juga: Kebiasaan ngopi ternyata bisa memperburuk kecemasan

Menurut dia, minum yang dikonsumsi remaja secara rutin dapat memengaruhi tingkat energi, kestabilan suasana hati, hingga cara sistem saraf merespons stres.

“Minuman yang sangat manis dapat memberikan lonjakan energi cepat yang kemudian diikuti penurunan tajam. Jika ditambah kafein, hal ini dapat memperkuat respons stres dalam tubuh,” jelas Poon.

Ia menyarankan orang tua untuk mendorong anak mengurangi frekuensi konsumsi minuman manis dan lebih banyak minum air putih, teh herbal, atau air berkarbonasi tanpa gula agar energi tubuh lebih stabil.

Selain itu, makanan juga sebaiknya seimbang dengan serat, lemak sehat, dan protein untuk membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil, yang dapat memengaruhi suasana hati dan konsentrasi.

“Remaja adalah fase penting perkembangan otak. Mendukung mereka dengan nutrisi seimbang, energi yang stabil, dan hidrasi yang cukup dapat membantu menjaga kesehatan fisik sekaligus emosional,” kata Poon.

Baca juga: Studi: Kecemasan-kurang tidur berkaitan dengan lemahnya sistem imun

Baca juga: Bersenandung, cara sederhana redakan stres dan cemas

Penerjemah: Sri Dewi Larasati
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |