Stop menganggap anak sebagai investasi!

4 hours ago 4
Biarkan anak menggunakan pigura masa depannya sendiri sesuai keadaan dan fondasi jiwanya sendiri. Jadilah busur yang selalu rela anak panahnya melesat untuk menemukan titik koordinat takdirnya.

Bondowoso (ANTARA) - Seorang mahasiswa semester dua, sebut saja namanya Budi, sering kali curhat dengan seniornya semasa SMA. Saat curhat lewat telepon, Budi hampir selalu menangis karena tidak kuat menanggung beban kuliah yang tidak sesuai dengan pilihan jiwanya.

Budi memilih kuliah jurusan bidang sains dan teknologi hanya untuk menebus utang bakti kepada ibunya yang ngotot agar si pemuda yang menyukai pelajaran bidang humaniora, khususnya bahasa asing, itu mengambil jurusan teknik.

Senior Budi sudah kehilangan kata untuk menguatkan mental juniornya. Tempat curhat itu teringat satu lokasi "horor" di kota tempat Budi kuliah. Dia mengingatkan agar Budi tidak melewati lokasi yang dikenal sebagai tempat anak putus asa kemudian memilih mengakhiri hidup dengan paksa.

"Duh. Ampun mas, doakan Budi tidak melakukan perbuatan nekad itu. Meskipun, jujur, sempat terpikir melakukan jalan pintas itu, tapi syukurlah Tuhan sayang sama saya," kata Budi menjawab peringatan dari seniornya.

Budi adalah satu dari sekian anak muda, khususnya mahasiswa dan siswa yang menjalani hidup dengan terpaksa menjalankan sesuatu karena ingin "berbakti" kepada orang tua.

Si senior, akhir-akhir ini penasaran karena Budi tidak lagi curhat mengenai beratnya kuliah. Ketika dihubungi, Budi bercerita bahwa saat ini dia sudah mengurus pengunduran diri dari kampus karena sudah mendaftar sebagai calon mahasiswa baru di satu kampus swasta, dengan jurusan sesuai minatnya.

Budi tergolong beruntung, karena orang tuanya, akhirnya menyadari kekeliruannya dalam mendampingi anak menyusun puzzle hidup di masa depan.

Di kasus lain, tidak sedikit orang tua yang keukeuh dengan pilihan mengarahkan jalan hidup anaknya, sesuai kehendak orang tua.

Kalau pun orang tua mau berkompromi dengan anak, biasanya hanya pindah jurusan, namun harus tetap sesuai pilihan si orang tua, padahal tetap tidak sesuai dengan minat si anak.

Sepintas, pilihan orang tua yang memaksa anaknya memilih jurusan tertentu yang dinilai memiliki masa depan cerah adalah menunaikan tugas mulia orang tua untuk si anak. Padahal, sesungguhnya, pilihan itu hanya untuk memenuhi hasrat atau ego si orang tua yang pada masa muda tidak mampu meraih impian tersebut.

Baca juga: Muklay imbau orang tua beri anak kebebasan ekspresikan bakat seni

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |