Samarinda (ANTARA) - Sejarawan Publik Kalimantan Timur (Kaltim) Muhammad Sarip membedah rekam jejak lima tokoh perempuan berpengaruh yang terbukti memiliki kontribusi besar dalam membangun peradaban serta kesadaran berbangsa di provinsi tersebut.
"Kelima perempuan ini membuktikan bahwa kaum hawa memiliki andil, kapasitas kepemimpinan, dan keberanian yang luar biasa di berbagai bidang pada masanya masing-masing," kata Sarip di Samarinda, Minggu.
Tokoh perempuan pertama adalah Aminah Syukur yang bersama suaminya mendirikan Meisje School pada tahun 1928 sebagai wadah pendidikan khusus bagi murid-murid perempuan pribumi agar terlepas dari belenggu marginalisasi pendidikan masa kolonial.
Pada era pergerakan kemerdekaan terdapat sosok kedua, yakni Salbiah sebagai srikandi pengurus Rukun Pemuda Indonesia yang berani mengobarkan semangat nasionalisme dalam Kongres Gabungan Pemuda Indonesia Seluruh Kalimantan tahun 1948 di Barabai.
Baca juga: Buku Sejarah Islam Kaltim berikan pesan merawat toleransi
Koleksi foto Ellie Hasan: Persatuan Istri Islam Indonesia pada Pertemuan Hari Raya Idul Adha di kediaman Ajung Baso Jalan Mesjid (sekarang Jalan KH Abdul Muthalib), Samarinda, 21 Januari 1940. ANTARA/HO-Koleksi Galeri Samarinda Bahari."Menembus dominasi birokrasi dekade 1950-an, tokoh ketiga yaitu Djumantan Hasyim mencatatkan sejarah sebagai legislator perempuan pertama di DPRD Kalimantan Timur, sekaligus sosok tegas yang mampu memimpin penyelesaian konflik saat terjadi kemelut dualisme kepemimpinan daerah," jelas Sarip.
Sejarawan publik itu memaparkan pula kiprah sosok keempat, perempuan dari etnis Tionghoa bernama Nyonya Lo Beng Long alias Dorinawati Samalo, yang secara ikhlas menghibahkan kediamannya pada tahun 1962 sebagai bangunan cikal bakal berdirinya institusi pendidikan tinggi Universitas Mulawarman sebagai kampus kebanggaan Kaltim.
Baca juga: Gubernur Kaltim kenalkan Aji Galeng, panglima pemersatu di wilayah IKN
Nama kelima adalah Fatimah Moeis, seorang organisator yang didaulat menjadi Komandan Korps Sukarelawati Kaltim pada 1963 setelah mengikuti pelatihan kemiliteran demi menghadapi ancaman konfrontasi Dwikora.
Detail rekam jejak perjuangan kelima sosok perempuan dengan kiprah tak boleh dilupakan ini juga diabadikan dalam buku karya Sarip bersama Alisya Anastasya berjudul "Perempuan di Kalimantan Timur: Sejarah yang Terlupakan, Mitos Kartini, dan Realitas Gender".
Baca juga: Museum Mulawarman, narator hidup sejarah dan budaya Kaltim
Pewarta: Ahmad Rifandi
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































